Dibutuhkan Industri Kuliner, Harga Tepung Tapioka per Karung Mulai Rp165 Ribuan

Ilustrasi: tepung tapiokaIlustrasi: tepung tapioka

tapioka atau yang dalam Bahasa Sunda disebut dengan aci banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk membuat berbagai makanan, mulai dari jajanan cilok, cimol, cireng, dan masih banyak lagi. yang terbuat dari ini umumnya dijual per 1 kg atau per karung seberat 25kg dengan yang variatif, tergantung mereknya. Setidaknya ada beberapa merk tepung tapioka yang populer di , seperti Tapioka Cap Tani, Gunung Agung, Alini, Rose Brand, dan masih banyak lagi.

Adapun harga tepung tapioka per karung Cap Gunung Agung isi 25 kg dijual antara Rp172 ribu sampai Rp215 ribuan. Kemudian tepung tapioka Opa-Oma per karung harganya Rp165 ribu, Cap Floura Tani Rp250 ribu, tepung tapioka kasar ala Shihlin 25 kg Rp425 ribu per karung, merek SPM 25 kilo Rp165 ribu, Terong Mas 25 kg Rp165 ribu, tepung tapioka Bola Deli 25 kilogram Rp220 ribu per karung, dan tepung tapioka Cap Istana berat 25 kg harganya Rp196 ribu per karung.

Meskipun masih banyak dibutuhkan oleh kuliner, rupanya kondisi pandemi virus corona (Covid-19) turut menekan angka produksi pabrik tapioka. Hal ini ditengarai karena harga singkong di Lampung Tengah yang mengalami penurunan.

“Salah satu penyebab turunnya harga singkong saat ini dari informasi yang saya dapat karena Covid-19 ini juga. Karena stok aci (tepung tapioka) di pabrik juga menumpuk. Impor aci menurun sampai 80 persen,” kata Sukino, pemilik lapak singkong di Kecamatan Anak Tuha, Rabu (5/8), seperti dilansir Tribunnews.

Oleh sebab itu, menurut Sukino harga beli perusahaan ke lapak dan lapak ke petani pun ikut terdampak. “Jadi untuk kami menaikkan harga singkong belum memungkinkan. Saya pribadi jelas senang kalau harga singkong mahal karena sangat menjanjikan keuntungan. Tapi faktanya, kami pun terdampak dari perusahaan,” terangnya.

Alhasil, pengepul atau pemilik lapak singkong ikut mengalami kerugian karena turunnya harga singkong. Pasalnya, singkong dari pabrik tapioka anjlok drastis gara-gara Covid-19. “Semenjak (pandemi) Covid-19 ini harga singkong memang tidak stabil (turun). Penerimaan barang di lapak terbilang menurun mencapai 5 persen dibanding saat kondisi normal,” ungkap Santoso, salah satu pengepul di Anak Tuha.

Loading...