Jangan Terburu Dibuang! Harga Tembaga Bekas Pipa AC Ternyata Cukup Mahal

Tembaga Bekas Pipa AC - scraprongsok.blogspot.comTembaga Bekas Pipa AC - scraprongsok.blogspot.com

-barang yang sudah rusak atau tak lagi bisa dipakai mungkin lebih sering dibuang oleh para pemiliknya. Padahal ada beberapa yang masih dapat dimanfaatkan atau bahkan ke pengepul -barang bekas dan juga rongsokan. Misalnya saja AC. Jika AC di rumah atau di kantor sudah rusak dan tak bisa dibenahi, ada pipa di dalamnya yang ternyata terbuat dari bahan yang memiliki jual cukup tinggi di loak.

Menurut masyarakat yang pernah menjual pipa air conditioner bekas, rupanya harga tembaga bekas pipa AC biasanya ditaksir di angka Rp50 ribu per 1 kg hingga Rp80 ribuan per kilo. Lumayan bukan? Barang yang awalnya dianggap hanya sampah pun bisa jadi pundi-pundi uang yang cukup besar.

Misalnya saja Didi Sutardi, pengusaha pengepul barang-barang bekas asal Lebak Bulus, Jakarta mengaku berhasil meraup omzet hingga Rp700 juta per bulan dari usaha loak. Dengan bermodal tabungan Rp10 juta, Didi mulai merintis bisnis dengan mengepul dan tembaga bekas kecil-kecilan dari hasil proyek-proyek yang ada di sekitar Lebak Bulus. Lalu dan tembaga itu diantarkannya ke untuk dijual lagi dengan memakai sepeda motor.

Saat awal merintis di tahun 2008 memang harga besi dan tembaga sedang turun karena tengah dilanda krisis ekonomi. “Kemudian di 2012 titik balik, akhirnya saya cari tempat lagi lebih luas lagi, tapi saya masih sewa lahan itu. Mulai punya anak buah juga, mulai ngepul plastik, kardus, dan kertas bekas,” kisahnya, seperti dilansir Okezone.

Tiap bulannya Didi membeli barang rongsokan senilai Rp500 juta. Lalu dari pembelian rongsokan tersebut, ia bisa mendapatkan omzet hingga Rp600-700 juta per bulan. Jika dikurangi dengan biaya operasional seperti gaji karyawan 18 orang, listrik, dan lain-lain, maka keuntungan bersih yang berhasil ia dapatkan adalah Rp100 juta per bulan. Luar biasa sekali bukan?

“Bisnis ini sebenarnya tidak akan mati 7 turunan. Sebab selama pabrik masih ada, proyek pembangunan masih banyak, masyarakat masih melakukan konsumsi, bisnis ini tidak akan pernah mati,” tandas Didi.

Loading...