Harga Pupuk KCL Subsidi Lebih Murah, Apa Bedanya dengan Pupuk Nonsubsidi?

Petani Menggunakan Pupuk KCL - www.cnnindonesia.com

Tahun 2018 ini alokasi subsidi ternyata hanya diperuntukkan bagi 5 jenis , yakni urea, SP-36, ZA, NPK, dan . Sementara itu untuk jenis pupuk KCL terkadang para petani ternyata masih harus membeli jenis pupuk non subsidi dengan sekitar Rp 300 ribuan untuk merek KCL Mahkota non subsidi kemasan 1 sak isi 50 kg.

Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Babel, Toni Batu Bara menjelaskan jika alokasi subsidi tahun ini mencapai 50.430 ton yang meliputi jenis pupuk urea 19.070 ton, SP-36 3.920 ton, ZA 2.330 ton, NPK sebanyak 19.390 dan Organik 5.720 ton. Lebih lanjut Toni menuturkan bahwa pupuk subsidi bisa dibeli oleh petani di pengecer resmi. “HET (Harga Eceran Tertinggi) untuk pupuk urea Rp 1.800 per kg, pupuk SP-36 Rp 2.000 per kilogram, Pupuk ZA Rp 1.400 per kg, Pupuk NPK Rp 2.300 per kg, dan pupuk organik Rp 500 per kg,” bebernya.

Meskipun sudah ada pupuk bersubsidi, sebagian petani berpendapat bahwa pupuk non subsidi memiliki perbedaan yang lebih bagus. Hal tersebut mereka lihat dari jumlah panen tandan buah segar yang dihasilkan dari seluas 3 hektare. “Kita pakai pupuk KCL. Yang satu KCL subsidi, yang satu lagi KCL nonsubsidi. Kalau pakai yang subsidi, hasil panen kami tidak mencapai 600 kg sekali panen. Tapi kalau yang non subsidi, hasil panen kita mencapai 600 kg lebih,” beber petani di Riau bernama Hasbi.

Alhasil Hasbi pun memilih membeli pupuk non subsidi walaupun harganya relatif lebih mahal. “Memang kalau dibandingkan, harga kedua pupuk ini jauh berbeda. Kalau KCL subsidi harganya Rp 2.300/kg. Sedangkan harga KCL non subsidi Rp 4.800/kg,” bebernya.

Lain lagi dengan para petani di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Sebagian besar petani mengaku harga pupuk seperti jenis TS 36 dan Phonska mendadak mahal ketika memasuki tanam. Padahal kedua jenis pupuk tersebut termasuk yang disubsidi pemerintah. Salah satu petani bernama Basuki menjelaskan jika harga pupuk TS 36 dan Ponska bersubsidi berdasar HET adalah Rp 220 ribu per kuintal, tetapi nyatanya banyak pedagang yang menjualnya dengan harga melebihi HET, bahkan ada yang mencapai Rp 300 ribu per kuintal.

“Oleh karena itu Kami berharap kepada Pemda Indramayu segera turun tangan. Mengecek dan mengawasi dengan sungguh-sungguh pupuk bersubsidi khususnya TS 36 dan Ponska yang di atas HET itu. Mohon agar kios-kios pupuk bersubsidi itu tak terlalu besar mengambil keuntungan dari para petani,” kata Basuki.

Loading...