Harga per Kg Mulai Rp 35 Ribuan, Sumpia Udang Punya Banyak Penggemar

Sumpia Udang - Resep BorneoSumpia Udang - Resep Borneo

Penggemar ringan atau cemilan tentunya sudah tak asing lagi dengan jajanan bernama sumpia. Sumpia adalah kering yang dibalut dengan pangsit dan isiannya berupa abon maupun ebi atau udang kecil. kering khas Cirebon, Jawa Barat ini kerap disuguhkan dalam berbagai acara seperti hajatan, , hingga untuk dimakan sebagai camilan sehari-hari. Harga sumpia di pun relatif terjangkau, biasanya dijual dalam satuan per gram atau per kg.

Sebagai informasi, harga sumpia udang per kg di pasaran cukup bervariasi, ada yang menjual sekitar Rp 35 ribuan dan ada pula yang membanderolnya hingga seharga Rp 60 ribu per kilogram. Masyarakat biasanya membeli sumpia abon atau udang lewat toko-toko grosir atau distributor yang memang bertindak sebagai atau menjual sumpia dalam besar.

Meski harga kue sumpia udang relatif murah, rupanya peminat jajanan ini cukup besar. Salah seorang pengusaha bernama Tatang Sadnumi yang awalnya hanya pemasar sumpia kini bahkan sukses memiliki pabrik kue sumpia sendiri dan mempekerjakan puluhan karyawan. Sumpia produksinya bahkan dipasarkan ke daerah-daerah lain di luar Cirebon.

Pada hari-hari biasa, Tatang membutuhkan 500 kg tepung terigu per hari untuk memproduksi 10 bal kue. Omzet usaha Tatang kabarnya mencapai ratusan juta per bulan. “Awalnya kami menitipkan kue ini ke toko-toko di sekitar rumah saja. Sekarang kami kewalahan memenuhi permintaan dari berbagai daerah seperti Tegal dan Bekasi,” ungkap Tatang, seperti dilansir Okezone.

Awalnya karena kesulitan memperoleh pasokan sumpia dari pabrik, terutama menjelang Lebaran, Tatang pun tergerak memproduksi sumpia sendiri sejak tahun 2005 dengan melibatkan ibu-ibu di lingkungan tempat tinggalnya. Lalu ia mulai memasarkan ke warung-warung dan . Tak disangka lambat laun usahanya terus berkembang hingga saat ini. “Berkat kucuran kredit dari Bank BTN akhirnya saya bisa membeli sebidang tanah dan mendirikan pabrik baru di Blok Karangbaru,” aku Tatang.

Untuk menjaga kualitas produk, Tatang kerap turun langsung untuk mengontrol para pekerjanya di pabrik. “Kami juga sering mendengarkan masukan-masukan dari para pelanggan, misalnya produk kami keasinan atau terlalu manis,” paparnya.

Loading...