Harga Pensil 1 Pack Mulai Rp15 Ribuan, Produk ATK Impor China Masih Ramai Pembeli

Harga, pensil, 1, pack, isi, 12, lusin, buku tulis, alat, Pasar Asemka, impor, China, lembar, pulpen, penghapus, penjual, pedagang, pembeli, kualitas, mahal, murah, lokal, produk, alat tulis, kantor, Pasar Jatinegara, perkantoran, kebutuhan, pelanggan, omzet, sentra, penjualan, perlengkapanIlustrasi: pensil 1 pak

Tahun ajaran baru mampu membuat pedagang kebanjiran pembeli. Begitu juga yang dirasakan pedagang di Pasar Asemka, Jakarta Barat. Selain Pasar Jatinegara, Pasar Asemka di sekitar Kota Tua, juga dikenal sebagai sentra penjualan perlengkapan sekolah musiman saat momen tahun ajaran baru.

Salah seorang pedagang bernama Ade mengaku dirinya bisa meraup omzet hingga puluhan juta dari hasil berdagang alat tulis, termasuk di antaranya alat tulis impor dari China. Di antaranya, pulpen, , penghapus hingga tempat . “Lagi ramai-ramainya bisa sampai Rp 70 juta kemarin,” ungkap Ade kepada detikFinance.

Menurutnya omzet tersebut meningkat dari hari biasanya yang hanya berkisar Rp20 jutaan. omzet paling besar dihasilkan dari penjualan buku tulis. “Banyak orang cari sih buku pasti. Sehari bisa lebih dari 200 pak buku, pulpen 30 pak,” terangnya.

alat tulis yang ditawarkan di Pasar Asemka memang tergolong murah, karena memang banyak yang didatangkan dari China. Seperti buku tulis 58 lembar Rp28 ribu per pack, pulpen Rp20 ribu per 1 pack isi 12, pensil dengan harga Rp15 ribu per 1 pack isi 12, penghapus Rp30 ribu per pack, kotak pensil Rp20 ribu – Rp80 ribu per pcs, dan rautan giling Rp25 ribu – Rp60 ribu per pcs.

Meski tidak memiliki baik, alat tulis asal China punya pasarnya sendiri. Salah seorang pedagang alat tulis di Proyek Pasar Pagi, Rohman mengatakan, beberapa pelanggannya masih ada yang mencari alat tulis impor lantaran harganya relatif lebih murah.
“Ada saja yang beli. Makanya masih jual. Tapi tetap banyakan (jual) merk lokal,” ungkap Rohman kepada detikFinance.

Rohman mengatakan, pembeli alat tulis impor asal China biasanya tidak mengutamakan kualitas dalam membeli. Seperti masyarakat kalangan bawah, yang mementingkan harga murah, serta atau restoran yang tidak fokus menjadikan pulpen sebagai kebutuhan utama.

“Ya orang-orang yang penghasilannya pas-pasan kan yang penting ada, nggak pikir kualitas. -kantor juga masih ada beberapa (beli alat tulis impor), restoran juga kan buat nulis pesanan. Itu kan nggak mesti bagus, yang penting nyata,” ujarnya. Seperti diketahui, harga pulpen impor memang memiliki selisih sekitar 20% dibandingkan produk lokal. Jika pulpen lokal paling murah dihargai sekitar Rp12.000 per lusin, pulpen impor dijual dengan harga Rp8.000 per lusin.

Harga yang murah ini sebanding dengan kualitasnya. “Pulpen China gampang bocor, macet-macet. Apalagi kalau diperhatikan lebih jeli, isi pulpennya gak penuh, kaya pulpen kita (lokal). Pensilnya juga gitu, kalau habis diserut, cepet patah. Nggak kuat,” tutur Rohman.

Menurutnya, saat ini masyarakat sudah cukup paham terhadap produk alat tulis yang dibeli. Sehingga meski produk luar lebih murah, sebagian besar pembeli tetap mencari produk lokal dengan kualitas yang lebih baik. “Pembeli juga sudah pada pintar lah. Mereka pasti pilih kualitas, walaupun harganya lebih mahal sedikit,” pungkasnya.

Loading...