Sudah Diatur Pemerintah, Banyak Smelter Ogah Beli Nickel Ore Sesuai Harga Patokan Mineral

Nickel Ore - trade-metal.comNickel Ore - trade-metal.com

Kementerian ESDM telah menerbitkan Menteri ESDM No.11 tahun 2020 tentang Perubahan Ketiga atas Menteri ESDM No.07 tahun 2017 tentang Tata Cara Penetapan Patokan Penjualan Mineral dan Batu Bara yang diundangkan pada 14 April 2020. Namun kabarnya, banyak smelter yang belum mematuhi patokan mineral (HPM) ketika membeli nickel ore atau bijih nikel.

Dalam regulasi menyebutkan bahwa HPM logam adalah harga batas bawah dalam penghitungan kewajiban pembayaran iuran oleh pemegang IUP Operasi dan IUPK Operasi . HPM logam tersebut juga menjadi acuan harga penjualan untuk pemegang IUP dan IUPK untuk penjualan bijih nikel.

Tetapi jika harga lebih rendah dari HPM logam, maka penjualan dapat dilakukan di bawah HPM dengan selisih paling tinggi 3% dari HPM. Sebaliknya, jika harga lebih tinggi dari HPM, maka penjualan wajib mengikuti harga di atas HPM logam tersebut. Peraturan tersebut berlaku efektif sejak 14 Mei 2020 lalu.

Berdasarkan penghitungan dengan formula sesuai dengan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM 2946 K/30/MEM/2017 dengan MC 30%, per Agustus 2020 ditetapkan harga bijih nikel kadar sebesar 1,7% HPM FoB USD27,86/wmt, bijih nikel kadar 1,8% HPM FoB USD31,13/wmt, bijih nikel kadar 1,9% HPM FoB USD 34,59/wmt. Pada bulan Juli 2020 harga nikel mencapai USD12.595,68 dengan USD 13.004,60/dmt. Kemudian pada Rabu (18/11), harga nikel kontrak tiga bulan di London Metal Exchange (LME) berada di US$15.809 per metrik ton.

“Smelter tidak mau menerima harga bijih nikel sesuai HPM. Maka kami para penambang bijih nikel nasional meminta pemerintah untuk membuka kembali keran ekspor bijih nikel kadar rendah secara terbatas,” kata Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey, seperti dilansir Kontan.

Meidy menjelaskan, di lokal bijih nikel kadar di bawah 1,7% dianggap tak ada harganya. Oleh sebab itu terjadi penumpukan bijih nikel kadar rendah di hampir seluruh area pertambangan. “Sedangkan di smelter lokal untuk kadar di bawah 1,7% tidak ada harganya, dianggap sampah. Saat ini terjadi penumpukan karena untuk mendapatkan bijih nikel kadar tinggi di atas 1,8% up harus membuang 2-3 ton bijih nikel kadar rendah,” terangnya.

Loading...