Harga Murah, Biskuit Kokola Butter Cookies Tembus Pasar Internasional

Harga, biskuit, Kokola, butter, cookies, kukis, keluarga, metter, produk, PT Mega Global Food Industry, Kokola Group, wafer, produksi, perusahaan, ekspor, pasar, lokal, domestik, internasional, perkembangan, terobosan, konsumen, rasa, bahan, green tea, matcha, kesehatan, keamanan, kualitasKudapan butter cookies (sumber: merakilane.com)

Menikmati saat santai bersama memang menjadi momen yang membahagiakan. Berbagai cerita ditemani dengan biskuit favorit semakin menambah keceriaan saat berkumpul . Biskuit Kokola Butter Cookies menjadi salah satu merek yang bisa Anda pilih untuk dinikmati. Selain rasanya yang enak dan gurih, harganya pun terjangkau yakni Rp13 ribuan untuk 300gr.

Biskuit Kokola Kukis Butter sendiri diproduksi oleh PT Mega Global Food Industry (Kokola Group). Richard Cahadi, Direktur Pengelola PT Mega Global Food Industry, eksportir snack biskuit dan wafer mengatakan, saat ini label halal tidak hanya dibutuhkan untuk -produk domestik saja, alias sudah mengarah ke tren internasional juga.

“Saat ini untuk ke pasar internasional, sudah banyak negara yang mempersyaratkan label halal, sifatnya sudah universal. Padahal, waktu itu, kami akan hapus label halal di kemasan untuk produk-produk Kokola yang diekspor, ternyata pihak importir malah mempersyaratkan label halal,” jelas generasi ketiga di pabrikan biskuit dan wafer yang bermarkas di Gresik, Jawa Timur itu.

Apalagi, permintaan pasar internasional yang meningkat akan produk-produk halal, mendorong PT Mega Global Food Industry (Kokola Group) sebagai salah satu produsen wafer dan biskuit nasional, makin serius mengelola kehalalan produknya. “Bagi seluruh , baik dalam maupun luar negeri, pasar internasional penting. Untuk itu, kali ini Kokola Group berniat makin memperkuat pasar internasional melalui berbagai langkah strategis.

Harga, biskuit, Kokola, butter, cookies, kukis, keluarga, metter, produk, PT Mega Global Food Industry, Kokola Group, wafer, produksi, perusahaan, ekspor, pasar, lokal, domestik, internasional, perkembangan, terobosan, konsumen, rasa, bahan, green tea, matcha, kesehatan, keamanan, kualitas

Kokola butter cookies kemasan kaleng khusus dijual di Taiwan (sumber: shopee.tw)

Dijelaskan eksekutif ini, sesuai imbauan Presiden Joko Widodo bahwa Indonesia harus lebih aktif dalam kegiatan ekspor bukan hanya bahan mentah/komoditi saja, tapi juga ekspor berbentuk olahan pangan/olahan jadi. Salah satunya seperti biskuit dan wafer Kokola ini yang makin agresif menggarap pasar mancanegara.

Biskuit Kokola setelah dikelola generasi ketiga berhasil melakukan turnaround. Transformasi gaya manajemen kuno ke modern sukses dilakukan Richard Cahadi secara bertahap. Sejumlah terobosan pun dilakukan, sehingga Kokola yang awalnya hanya jago di pasar Jawa Timur, kini menjadi perusahaan global di kategori snack. Tidak kalah dengan raksasa Mayora, Indofood atau Garudafood.

Namun, satu keunikan Kokola adalah fokus menggarap pasar biskuit dan wafer saja. Tidak seperti perusahan makanan lain yang merambah ke mana-mana produknya. “Sejauh ini kami tidak terbawa arus ikut masuk ke pasar mie instan, minuman, permen, kacang atau snack yang lain. Kokola hanya fokus untuk produk-produk biskuit,” Richard menegaskan komitmen perusahaan yang berumur 30 tahun itu.

Terobosan generasi kedua ini di antaranya, masuk ke pasar ekspor. Hal ini dilakukan sejak tahun 2006. “Negara pertama ekspor biskuit Kokola adalah Australia. Setelah itu, ke rak-rak supermarket di Amerika Serikat, Eropa, China, Arab Saudi, Asia, Afrika dan lainnya. Semua itu terwujud berkat fokus perusahaan akan keamanan dan kesehatan produk yang kami hasilkan,” kata Richard yang lulusan S1 jurusan Marketing di Universitas Surabaya, dan pernah belajar Biscuit Making di Biscuit Institute, Singapura, serta mengikuti Food Safety Training dari Premisys Consulting itu.

Untuk pasar Asia, semua negara sudah ditembus biskuit dan wafer Kokola, kecuali Jepang saja. “Nggak tahu kenapa lidah orang Jepang kok beda sendiri. Padahal, produk terbaru kami rasa matcha atau green tea direspons antusias oleh konsumen Korea, Taiwan dan China, tapi di Jepang susah masuknya,” keluh Richard.

Loading...