Harga Minyak Rebound, Rupiah Berakhir Melonjak 40 Poin

Setelah bergerak fluktuatif hampir sepanjang hari, rupiah akhirnya bisa menutup perdagangan awal pekan ini (26/9) di zona hijau. Menurut Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, Garuda ditutup 40 poin atau 0,31% ke level Rp13.041 per dolar AS.

Sempat menguat di awal dagang, rupiah berbalik melemah tipis 9 poin atau 0,07%% ke level Rp13.090 per dolar AS pada pukul 08.55 WIB. Istirahat siang, spot masih melemah 4 poin atau 0,03% ke Rp13.085 per dolar AS. Namun, jelang penutupan atau pukul 15.41 WIB, spot kembali bangkit dengan menguat 23 poin atau 0,18% ke level Rp13.058 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah memang diprediksi bisa kembali menguat meski cenderung terbatas. Keterbatasan gerak rupiah salah satunya dipicu oleh melemahnya minyak dunia pada akhir pekan lalu. “ minyak mentah menyusul spekulasi bahwa kesepakatan untuk membatasi produksi antara negara dan non- belum akan terjadi dalam waktu dekat,” ujar Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta.

Namun, pada Senin siang, pergerakan harga minyak mentah dunia terpantau rebound menyusul pernyataan Menteri Energi Aljazair mengenai terbukanya segala untuk pemangkasan atau pembekuan produksi minyak pada pertemuan informal OPEC pekan ini. Minyak kontak November menguat 0,33 poin ke 44,81 dolar AS per barel, sedangkan minyak Brent kontrak November juga naik 0,39 poin ke level 46,28 dolar AS per barel.

Pada perdagangan Jumat (23/9) kemarin, harga minyak mentah berakhir anjlok hampir 4% di tengah tanda-tanda bahwa Arab Saudi dan Iran hanya membuat sedikit kemajuan dalam hal pencapaian kesepakatan pendahuluan untuk pembekuan produksi. “Saya harap Aljazair dan Venezuela terus mendorong tercapainya kesepakatan karena sangat penting bagi mereka untuk menjaga harga agar naik,” kata Kepala Pejabat Investasi Ayers Alliance, Jonathan Barratt.

Saat ini, fokus pasar akan beralih ke debat antara kandidat Partai Demokrat, Hillary Clinton, dengan kandidat dari Partai Republik, Donald Trump, yang dijadwalkan berlangsung esok hari. Jika debat berakhir untuk keberpihakan Trump serta peningkatan dukungannya, pelemahan dolar AS diprediksi terus berlanjut akibat penghindaran risiko.

Loading...