Harga Minyak Mentah Turun Lagi, Rupiah Diprediksi Terkikis oleh Dolar AS

smeaker.com

Jakarta – Mengawali pekan ini, Garuda terpantau 17 poin ke level Rp 13.472 per AS. Sejalan dengan penguatan sejumlah mata uang Asia terhadap AS, Rupiah bergerak naik 0,13% di pembukaan perdagangan Senin pagi (15/2).

Meski tampak bugar, Rupiah diprediksi bakal lanjut jika tak didukung sentimen positif yang cukup.

“Apalagi jika rilis data-data pada awal pekan tidak begitu baik, maka perlu kiranya diwaspadai potensi pelemahan lanjutkan rupiah,” ujar Analis NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada, dalam hasil risetnya yang diterima di Jakarta, pagi ini (15/2).

Reza mengatakan, laju Dolar AS semakin menguat seiring dengan melemahnya laju minyak mentah dunia. Hal ini tentu saja akan berimbas pada posisi Rupiah yang perlahan terkikis oleh Dolar AS.

Minyak jenis West Texas Intermediate () harganya sempat hingga USD26,13 per barel pada perdagangan intraday. Harga ini melampaui terendah sejak Mei 2003, senilai USD26,19 yang dibukukan pada bulan Januari 2016 lalu. Beruntungnya, laju penurunan harga minyak WTI mulai berkurang jelang akhir perdagangan yakni hanya turun 1,24% ke patok harga USD27,11 per barel di komoditas New York.

Reza memprediksi laju Rupiah sepanjang hari ini akan berada di level support Rp 13.500/USD, serta level resisten Rp 13.400/USD.

“Terhadap mata uang lainnya, laju USD terlihat menguat antara lain EUR, AUD, JPY, CHF dan beberapa lainnya. Sehingga, memberikan imbas negatif pada laju rupiah,” pungkasnya.

Loading...