Harga Minyak Mentah Naik, Rupiah Terus Lunglai di Hadapan USD

Rupiah - Jitunews.comRupiah - Jitunews.com

Jakarta dibuka melemah sebesar 10 poin atau 0,07 persen ke posisi Rp 14.040 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Kamis (28/2). Sebelumnya, Rabu (27/2) mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 38 poin atau 0,27 persen ke level Rp 14.030 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS terpantau naik 0,15 persen menjadi 96,1529 lantaran para tengah mencermati kesaksian dari pejabat .

Sebagai informasi, Gubernur Jerome Powell mempresentasikan hari kedua kesaksiannya di hadapan House Financial Services Committee pada Rabu. Powell mengungkapkan bahwa pihak bank sentral Amerika Serikat akan mengumumkan rencana untuk membatasi balance sheet atau neraca keuangan.

Di samping itu, The Fed juga menilai kondisi saat ini sehat dan memiliki prospek yang cukup positif. Powell juga memperingatkan adanya beberapa arus lintas dan sinyal yang bertentangan selama beberapa bulan terakhir.

Di sisi lain, rupiah terus tak berdaya di hadapan dolar AS. Menurut para ekonom, pelemahan rupiah diakibatkan oleh kenaikan harga minyak mentah hingga investor dalam negeri yang mulai melakukan aksi jual saham emiten yang overvalue.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menuturkan, rupiah melemah lantaran harga minyak mentah naik 0,78 persen ke level USD 65,7 per barel. “Harga minyak naik menyusul eskalasi konflik antara Pakistan-India, Venezuela-Kolumbia dan pengetatan pasokan OPEC. Setelah jet India ditembak jatuh Pakistan, kondisi geopolitik memanas. Harga minyak yang naik berdampak negatif bagi karena defisit perdagangan diprediksi makin melebar,” ujar Bima, seperti dilansir Kontan.

Selain itu, Bima berpendapat bahwa aksi proteksi dagang yang dilakukan oleh Filipina terhadap produk CPO Indonesia juga menjadi sentimen negatif untuk kinerja ekspor sawit tahun 2019 ini. Terlebih karena dari dalam negeri para investor mulai menjual emiten yang overvalue. “Aksi profit taking mengantisipasi kinerja keuangan beberapa emiten yang akan dirilis Maret nanti,” sambungnya.

Oleh sebab itu, hari ini Bhima memprediksi jika rupiah masih akan melanjutkan pelemahannya walaupun posisi rupiah masih agak tertolong berkat pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell terkait stance kebijakan moneter AS yang lebih moderat.

Loading...