Harga Minyak Melambung, Tren Penguatan Ringgit Berlanjut

yang melonjak tinggi berdampak positif bagi sejumlah mata uang , termasuk , pada perdagangan (20/10). dan won Korea Selatan meneruskan tren penguatan selama tiga hari beruntun usai harga minyak berada pada level tertinggi dalam satu tahun terakhir sekaligus mendorong permintaan yang lebih tinggi atas aset berimbal hasil.

Kurs ringgit terhadap AS terpantau melonjak 0,3% ke level 4,1760 per AS pada pukul 09.13 waktu Hong Kong. Di saat yang sama, won 0,1% menjadi 1.1180,80 per dolar AS, level terkuat sejak 11 Oktober lalu.

“Harga minyak yang melambung tinggi mendukung ekuitas dan aset emerging market, termasuk ringgit,” ujar Ekonom Senior di Mizuho Bank Ltd. yang berbasis di Singapura, Vishnu Varathan. “Dengan data AS yang suram dan Donald Trump yang terlihat turun dalam jajak pendapat calon AS, mata uang Asia seperti mendapat angin segar.”

Harga minyak dunia sendiri melambung lebih dari 2%, dengan pengendapan minyak mentah AS pada level tertinggi dalam 15 bulan usai pemerintah melaporkan penurunan persediaan untuk pekan keenam. Harga minyak West Texas Intermediate () kontrak November naik 2,6% menjadi 51,60 dolar AS per barel, atau level tertinggi sejak 14 Juli.

Di sisi lain, jajak pendapat terakhir menyebutkan calon dari Partai Demokrat, Hillary Clinton, mampu mengungguli sang rival, Donald Trump, untuk memenangkan pemilu presiden bulan depan. “Kenaikan ekuitas dan harga minyak mentah telah memicu risk appetite. Dengan Clinton memimpin jajak pendapat, dampak dari debat calon presiden ini bisa agak terbatas kecuali ada hal-hal tak terduga dalam acara,” kata Ekonom Shinhan Investment Corp di Seoul, Ha Keon-hyeong.

Loading...