Harga Minyak Dunia Minus, Rupiah Merah di Hari Kartini

Rupiah - www.cnbcindonesia.comRupiah - www.cnbcindonesia.com

JAKARTA – harus terjungkal cukup dalam pada perdagangan Selasa (21/4) pagi, tepat di Hari Kartini. Menurut catatan Bloomberg Index, Garuda melemah 87 poin atau 0,57% menuju level Rp15.500 per dolar AS pada pukul 09.06 WIB. Padahal sebelumnya, spot sempat ditutup menguat 53 poin atau 0,34% di posisi Rp15.412 per dolar AS pada hari Senin (20/4) kemarin.

Berdasarkan analisis CNBC , mata uang memang rawan mengalami koreksi pada perdagangan hari ini lantaran dunia melorot tajam. Seperti diketahui, minyak mentah berjangka AS acuan West Texas Intermediate (WTI) harus anjlok hingga ke bawah 0 dolar AS per barel atau menjadi minus 37,63 dolar AS per barel, rekor terendah sejak NYMEX membuka perdagangan minyak berjangka pada tahun 1983 silam.

Penurunan drastis harga minyak mentah WTI ini dipicu oleh melemahnya permintaan di tengah pandemi . Arab Saudi, Rusia, dan produsen minyak lainnya mencoba menopang harga dengan kesepakatan untuk memangkas sebesar 9,7 juta barel per hari pada Mei dan Juni. Namun, pemangkasan pasokan minyak dunia yang dilakukan OPEC+ tersebut dinilai belum cukup mengimbangi pelemahan permintaan yang terjadi akibat pandemi virus corona.

Dikatakan Senior Market Analyst di Price Futures Group, Phil Flynn, harga minyak sudah serendah mungkin, tetapi tetap tidak ada yang mau membeli. Sementara, Senior Currency Trader di Tempus Inc., Juan Perez, berujar bahwa apa yang terjadi di pasar komoditas, terutama minyak, adalah puncak manifestasi dari roda ekonomi yang tidak berputar. “Ini menjadi sentimen negatif terbesar yang menghantui pasar,” katanya.

Meski demikian, sejumlah ekonom dalam negeri masih yakin bahwa rupiah sanggup menguat pada transaksi hari ini. Menurut Head of Economics Research Pefindo, Fikri C. Permana, penguatan rupiah bisa ditopang harapan penanganan virus corona yang kian membaik sehingga investor mengalihkan perhatiannya ke mata uang berkembang.

Loading...