Harga Minyak Dunia Kembali Anjlok, Rupiah Ditutup Tergerus 112 Poin

Setelah mengalami tren positif dalam dua hari beruntun, tengah pekan ini rupiah kembali terkoreksi. Menurut data Index pada pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda hari ini (20/1) ditutup melemah ke level Rp13.964 per . Rupiah 112 poin atau 0,81 persen dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp13.852 per dolar .

Saat dibuka pagi hari, rupiah langsung melemah 16 poin atau 0,12 persen di Rp13.686 per dolar AS. Kemudian, pada siang hari tepatnya pukul 13.52 WIB, rupiah melemah 0,66 persen atau 92 poin terhadap dolar AS sekaligus menjadi mata uang terlemah di kawasan ASEAN. Sebagai catatan, ringgit Malaysia melemah 0,25 persen, melemah 0,13 persen, dan Filipina melemah 0,57 persen pada jam yang sama.

Terdepresiasinya rupiah juga dilaporkan . Pada pukul 16.01 WIB, rupiah berada di level Rp13.970 per dolar AS. Mata uang Garuda terkoreksi 135 poin atau 0,97 persen dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di Rp13.835 per dolar AS.

Meski sebelumnya diprediksi terus melanjutkan tren penguatannya seiring spekulasi stimulus Tiongkok dan akan digelontorkannya paket ekonomi jilid 9 di dalam negeri, namun laju rupiah masih dibayangi pergerakan harga minyak. Seperti diketahui, harga minyak makin tergelincir setelah Iran siap menggelontorkan ekspornya usai sanksi terhadap tersebut dicabut.

Pada Rabu ini, harga minyak mentah jenis WTI Crude terpantau bergerak 1,65 persen menjadi 27,99 dolar AS per barel. Sementara, minyak mentah jenis Brent Crude anjlok 0,49 persen ke level 28,62 dolar AS per barel.

Analis dari PT Platon Niaga Berjangka, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa spekulasi mengenai tambahan stimulus oleh Tiongkok pascarilis data pertumbuhan ekonominya yang melambat sempat mendorong sejumlah mata uang di kawasan Asia bergerak ke teritori positif. Namun kemudian, meredup kembali setelah muncul kekhawatiran soal turunnya harga minyak mentah dunia.

“Potensi penurunan yang berkelanjutan pada harga minyak kembali membuat investor di khawatir terhadap laju ekonomi global,” katanya. “Investor juga cenderung menahan transaksinya di mata uang negara berkembang sambil menanti data inflasi AS untuk melihat prospek suku bunga The Fed pada tahun ini.”

Pendapat hampir senada diutarakan pengamat pasar uang dari Bank Himpunan Saudara, Rully Nova. “Pengaruh eksternal, terutama harga minyak mentah dunia, masih menjadi sentimen utama bagi mata uang di negara penghasil komoditas,” jelas Rully.

Loading...