Harga Minyak Tahun 2020 Diprediksi Kembali Melonjak, Ini Sentimennya

Harga Minyak - www.alibaba.comHarga Minyak - www.alibaba.com

RIYADH/BEIJING – Harga minyak mentah pada tahun 2019 bisa dibilang relatif stabil. Meski demikian, pasar masih diselimuti kekhawatiran karena perang antara AS dan China yang masih belum berakhir dan indeks dolar AS yang cenderung kuat, bisa membuat harga salah satu komoditas paling penting di dunia tersebut melonjak tinggi.

“Penurunan harga minyak tahun ini sebagian besar merupakan hasil dari perlambatan yang disebabkan oleh perang perdagangan yang memburuk,” ulas Vandana Hari, pendiri Vanda Insights yang melacak pasar energi, dilansir Nikkei. “Baik AS dan China berusaha keras untuk menyelesaikan konflik selama 18 bulan. Jika mereka sepakat melonggarkan tarif impor satu sama lain, pertumbuhan dapat memperoleh kembali momentum, mendorong harga minyak.”

Ia melanjutkan, nilai tukar mata uang menimbulkan risiko lain. Depresiasi tajam dalam mata uang negara berkembang terhadap dolar AS dapat mengikis beberapa keuntungan dari harga minyak yang lebih rendah. Yuan China, rupee India, won Korea Selatan, ringgit Malaysia, dan rupiah jauh lebih lemah terhadap greenback dibandingkan dengan 2018, sementara dolar AS tetap kuat tahun ini meskipun ada tiga pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve.

Ada faktor lain yang kemungkinan bisa kembali menopang harga minyak mentah. OPEC dan 10 sekutu non-OPEC-nya telah berjanji untuk memangkas produksi lebih lanjut hingga kuartal pertama 2020. Dikombinasikan dengan pembatasan yang sedang berlangsung, aliansi telah sepakat untuk memompa hampir 2 juta barel per hari lebih sedikit selama Januari-Maret 2020 dibandingkan dengan level pada akhir 2018. Pembatasan diprediksi akan diperpanjang hingga tahun depan.

“Arab Saudi, eksportir minyak mentah terbesar di dunia dan pemimpin OPEC secara de facto, meluncurkan penawaran publik perdana dari raksasa minyak nasional, Saudi Aramco, pada November,” sambung Vandana. “Dengan Aramco yang sekarang diperdagangkan di bursa domestik dan di bawah pengawasan ketat investor internasional, kerajaan mungkin akan diberi insentif untuk mendorong harga minyak lebih tinggi dengan memperketat pasokan.”

Timur Tengah yang kaya minyak yang diperkirakan akan tetap menjadi titik api geopolitik, masih berpotensi membahayakan pasokan energi Asia. Konsumen minyak terbesar di kawasan ini, yaitu China, India, Jepang, dan Korea Selatan, sangat bergantung pada Timur Tengah untuk hampir setengah dari kebutuhan minyak mentah kolektif mereka.

Serangan pesawat tak berawak dan rudal ke minyak Abqaiq dan Khura di Arab Saudi pada bulan September kemarin menghancurkan hampir 6% dari pasokan minyak dunia. Meskipun lonjakan harga minyak mentah dengan cepat mereda ketika kerajaan menggunakan simpanannya untuk mempertahankan ekspor dan segera memperbaiki yang rusak, Aramco telah memperingatkan bahwa infrastruktur vital mereka rentan terhadap gangguan seperti itu.

Ketidakpastian harga minyak mentah dan biaya untuk memastikan keamanan pasokan terhadap risiko geopolitik akan menjadi tantangan tersendiri bagi konsumen di Asia pada tahun 2020 dan selanjutnya. Para importir Asia bakal terus mendiversifikasi sumber minyak mentah mereka serta mempercepat pembangunan cadangan minyak strategis untuk membantu mengatasi setiap penurunan pasokan yang berkelanjutan.

“Mempertahankan tujuan jangka panjang, pemerintah Asia harus menggandakan upaya untuk mengurangi ketergantungan minyak melalui peningkatan substitusi gas alam, lebih ambisius dalam menambah kapasitas daya terbarukan, serta mempromosikan penelitian, pengembangan, dan adopsi cepat teknologi hemat energi,” imbuh Vandana. “Namun, tujuan-tujuan yang lebih tinggi ini hanya dapat terlihat setelah masalah pengelolaan biaya pasokan minyak dan keamanan segera diatasi.”

Loading...