Harga Minyak Anjlok, Rupiah Ditutup Melemah Tajam 1,05%

Rupiah melemahRupiah melemah pada perdagangan Senin (9/3) sore - www.jawapos.com

JAKARTA – makin terbenam di teritori merah pada perdagangan Senin (9/3) sore ketika kombinasi antara penurunan harga minyak dunia dan wabah membuat aset berisiko kompak jatuh. Menurut laporan Index pada pukul 15.45 WIB, mata uang Garuda melemah 150 poin atau 1,05% ke level Rp14.393 per AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.342 per dolar AS, terdepresiasi 75 poin atau 0,52% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.267 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang takluk melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,87% dialami ringgit Malaysia.

Nilai tukar mata uang Negeri Jiran, seperti dilansir Bloomberg, memimpin pelemahan mata uang Benua Kuning di tengah harga minyak mentah yang anjlok dan makin meluasnya wabah . Disintegrasi aliansi OPEC+ memicu perang harga antara Arab Saudi dan Rusia, sedangkan wabah menyebar ke sekitar separuh dari seluruh di dunia.

Tidak hanya kurs Asia, indeks dolar AS pun harus terjerembab ke zona merah pada hari Senin, termasuk di hadapan yen Jepang dan euro, ketika kombinasi penurunan harga minyak dan wabah virus corona membuat pasar lebih tertarik berburu aset safe haven. Mata uang Paman Sam terpantau merosot tajam 0,595 poin atau 0,62% ke level 95,356 pada pukul 12.46 WIB.

Harga minyak ambruk 30% setelah Arab Saudi mengejutkan pasar dengan janji untuk memangkas harga dan mendorong produksi menyusul jatuhnya perjanjian OPEC+. Investor yang panik bergegas ke obligasi, mengirimkan imbal hasil 30-tahun ke bawah 1% dan imbal hasil 10-tahun di bawah 0,5%, semuanya menghilangkan apa yang dulunya merupakan daya tarik utama dolar AS.

“Penurunan harga minyak ini datang pada saat terburuk, atau setidaknya begitulah pasar keuangan membacanya,” kata kepala penelitian pasar valas yang muncul di HSBC di Hong Kong, Paul Mackel, dilansir Reuters. “Volatilitas di seluruh aset membayangi segala lapisan perak dari penurunan harga minyak, dan sulit untuk mengetahui kapan takut dan ketegangan akan mereda.”

Loading...