Harga Minyak Anjlok, Maskapai Penerbangan Asia Tenggara Justru Rugi

Anjloknya harga dunia tidak otomatis membuat maskapai di kawasan Asia Tenggara memperoleh laba besar. Sebaliknya, beberapa maskapai malah harus mengencangkan ikat pinggang karena juga harus menurunkan tiket pesawat.

Maskapai penerbangan asal Indonesia, Garuda Indonesia, pada tanggal 16 Februari lalu mengumumkan laba bersih pada tahun 2015 mencapai 76 juta dolar AS. Keuntungan itu diperoleh salah satunya karena bahan bakar, yang mencapai 40 persen anggaran , turun hampir sepertiga imbas anjloknya harga minyak.

Namun di sisi lain, pendapatan Garuda untuk penerbangan domestik menurun 3 persen menjadi 3,81 miliar dolar AS. Kabut asap yang menyelimuti beberapa kota di Kalimantan dan Sumatera, serta aktivitas gunung berapi di sekitar Bali menjadi penyebab turunnya keuntungan penerbangan domestik. Selain itu, penurunan tarif di penerbangan internasional juga turut mengurangi pendapatan per penumpang per kilometer.

Sementara, maskapai asal Singapura, Singapore Airlines, juga menderita kerugian sekitar 4 persen menjadi 3,94 miliar pada tahun 2015 karena harus mengurangi tarif tiket penumpang, termasuk anak perusahaan mereka , Silk Air, , dan Scoot. Meski di sisi lain, selama tiga bulan terakhir 2015, laba perusahaan meningkat 36 persen menjadi 195 juta dolar AS. “Ekspansi maskapai penerbangan murah, khususnya di Asia Tenggara, akan terus menekan beban dan hasil,” kata Singapore Airlines dalam rilis persnya.

Meski kawasan Asia-Pasifik menyumbang sepertiga dari penumpang udara global dan merupakan bagi lima rute tersibuk di dunia, namun profitabilitas yang ada belum bisa mengejar level di pasar yang lebih matang. Pasalnya, pasar Asia Tenggara memiliki tingkat penetrasi terbesar di dunia, yaitu sebesar 54 persen.

The International Air Transport Association (IATA) mencatat, penerbangan di Amerika Utara mampu menghasilkan keuntungan lebih dari 21 dolar AS per penumpang. Sementara, rekan-rekan mereka di Asia-Pasifik hanya membuat kurang dari seperempatnya.

Risiko lain untuk maskapai di Asia Tenggara adalah volatilitas , karena sebagian besar anggaran, mulai bahan bakar hingga perawatan pesawat, dihitung dalam mata uang dolar AS. AirAsia tercatat mengalami kerugian untuk tiga bulan yang berakhir September 2015 karena jatuhnya nilai tukar ringgit Malaysia terhadap dolar AS.

Meski begitu, dengan semakin berkembangnya pasar Asia, maskapai penerbangan di kawasan ini hanya perlu menunggu waktu untuk merebut pasar. IATA memperkirakan, pada tahun 2029, Cina akan mengambil alih posisi AS sebagai pasar penumpang terbesar di dunia. Sementara, India dan Indonesia akan melesat ke tempat ketiga dan kelima.

Loading...