Harga Minyak Anjlok, Industri Pengeboran di Ambang Kebangkrutan

Anjloknya harga dunia membawa dampak negatif bagi keberlangsungan industri pengeboran . Bahkan, beberapa perusahaan terancam mengalami kebangkrutan akibat masalah ini.

Kebijakan yang menurunkan harga minyak dunia ke level 35 per barel menjadi salah satu penyebab beberapa industri pengeboran tidak mampu menutupi biaya produksi. Bahkan, beberapa industri pengeboran milik tercatat telah melakukan PHK terhadap ribuan karyawannya untuk menekan sepanjang tahun 2015.

“Anjloknya harga minyak memang menjadi pukulan telak bagi industri pengeboran,” ujar analis senior di Wood Mackenzie Ltd. yang bermarkas di Houston, R.T. Dukes. “Mereka (industri pengeboran) tidak didirikan untuk bertahan di level 30 dolar AS per barel.”

Sebelumnya, harga minyak dunia sempat melonjak karena pertumbuhan ekonomi global di awal 2000-an yang mendorong naiknya permintaan energi. Bahkan, permintaan naik mencapai lebih dari 60 persen pada akhir 2010.

Namun, kondisi perekonomian berubah drastis dan melambat, yang akhirnya tidak mampu menampung pasokan minyak berlebih. Untuk menyiasatinya, OPEC menurunkan harga minyak dunia yang semula 100 dolar AS per barel menjadi 70 dolar AS per barel, dan lagi menjadi 30-35 dolar AS per barel.

“Industri pengeboran jelas terganggu,” sambung Dukes. “Dan, pasar minyak mulai terlihat buruk dan bertambah buruk.”

Beberapa industri pengeboran, termasuk Samson Resources Corp. dan Magnum Hunter Resources Corp., tercatat telah mengalami kebangkrutan, menurut laporan Intelligence, Spencer Cutter. “Anda akan melihat banyak pengajuan kebangkrutan, aset, serta utang. Dan, harga minyak yang berada di kisaran 35 dolar AS akan mempercepatnya,” kata manajer direktur Blackhill Parteners, Jeff Jones.

Selain industri pengeboran minyak, strategi OPEC untuk menurunkan harga minyak dunia juga berimbas buruk bagi anggota-anggotanya. Arab Saudi dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk menjual saham perusahaan milik negara guna membendung defisit anggaran ekonomi yang mencapai 20 persen. Sementara, Perminyakan Venezuela, Eulogio Del Pino, mengungkapan jika produksi minyak mentah melampaui kapasitas penyimpanan, industri akan berada di “pintu bencana”.

Untuk menyiasati hal ini, The Energy Information Administration memprediksi, beberapa perusahaan akan mengurangi produksi sekitar 570 ribu barel per hari pada 2016. “Ada lingkup terbatas untuk pengurangan biaya produksi lebih lanjut. Sementara, teknologi dan efisiensi dapat terus dilakukan secara bertahap,” ujar kepala riset minyak dan pasar di Societe Generale, Mike Wittner.

Loading...