Diklaim Mampu Mengurangi Penyebaran Covid-19, Berapa Harga Masker SNI?

Masker Kain Non Medis - www.thestate.comMasker Kain Non Medis - www.thestate.com

Sejak heboh scuba dilarang di beberapa moda umum karena dianggap kurang efektif untuk menghalau droplet, pun sigap menggodok aturan yang mewajibkan masyarakat menggunakan kain non medis yang lolos Standar Nasional Indonesia (SNI) demi memutus mata rantai penyebaran (Covid-19). Sampai saat ini aturan tersebut masih dirumuskan oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin), sehingga masih belum diketahui berapa SNI tersebut jika nantinya dilepas ke pasaran.

Kemenperin saat ini dilaporkan sedang merumuskan Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) untuk masker berbahan kain. SNI yang disusun oleh Kemenperin sudah memperoleh penetapan Badan Standardisasi Nasional (BSN) sebagai Standar Nasional Indonesia (SNI) 8914:2020 Tekstil – Masker dari kain melalui Keputusan Kepala BSN Nomor No.408/KEP/BSN/9/2020 pada pertengahan September 2020 lalu.

“Dengan standar mutu dan pengujian yang jelas serta pemakaian, perawatan dan pencucian yang termuat dalam SNI masker dari kain ini, masyarakat dapat lebih terlindungi sekaligus membantu memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19,” tutur Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Minggu (27/9), seperti dilansir Kompas.

Sejauh ini sudah banyak home industry atau rumahan berskala kecil yang memproduksi aneka masker kain dengan yang cukup baik. Namun belum semuanya memenuhi SNI. Setidaknya ada beberapa produsen besar yang menawarkan masker kain berkualitas baik. Misalnya saja masker kain non medis produksi Sritex yang dijual dengan harga Rp7.900.

Kemudian ada juga masker kain dengan 3 lapis filter merk Onecare yang diklaim sudah ber-SNI, harganya Rp15.000 per buah, hingga jenis masker disposable (sekali pakai) 3 lapis dengan harga mulai Rp55 ribuan sampai Rp60 ribuan per box isi 50 pcs.

Kebijakan masker SNI sendiri menuai pro dan kontra dari masyarakat. Epidemiolog Universitas Airlangga (Unair) Windhu Purnomo juga mengapresiasi usulan masker ber-SNI. Namun demikian, ia berharap masker SNI saat ini tak diwajibkan terlebih dahulu. Sebab, hal itu justru dianggap bakal mematikan home industry terkait APD yang kini banyak berkembang.

“Yang penting, sementara ini, tentu home industry yang memproduksi masker biarkan berkembang, produknya bisa murah dan terjangkau di masyarakat. Apalagi masker sekarang jadi barang yang harus digunakan saat ini. Jangan sampai karena SNI itu, harga masker jadi mahal sehingga biaya itu dibebankan pada konsumen,” katanya.

Loading...