Tangguh & Bisa Terjang Banjir, Berapa Harga Lokomotif CC 300?

Lokomotif CC 300 - id.wikipedia.orgLokomotif CC 300 - id.wikipedia.org

Lokomotif CC 300 merupakan salah satu lokomotif hidraulik di Indonesia milik Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkeretaapian Kementerian Perhubungan yang digunakan untuk keperluan dinas Ditjen Perkeretaapian. Loko yang dilengkapi dua kabin masinis ini adalah buatan PT INKA. Karena merupakan milik Ditjen Perkeretaapian, loko satu ini tidak dioperasikan untuk mengangkut atau umum, kecuali untuk mendesak.

Tahun 2016 lalu, PT Industri Kereta Api (INKA) mengerjakan 5 unit lokomotif DH CC-300 pesanan yang memiliki kontrak masing-masing Rp40 miliar. “Kontrak tersebut kami dapatkan pada tahun 2012 dan diserahkan ke Kementerian Perhubungan pada tahun 2014, dengan nilai kontrak tiap lokomotif sekitar Rp40 miliar,” kata Senior Manager Secretary, Public Relations dan CSR Inka, Cholik Mochamad Zam Zam tahun 2016, seperti dilansir Okezone.

Cholik menjelaskan bahwa lokomotif itu murni dirancang untuk Indonesia, mulai dari pemilihan merah dan putih, serta karakter mesin yang disesuaikan dengan kondisi medan di Tanah Air. Jika ditinjau dari , lokomotif CC 300 mempunyai berbagai keunggulan dibanding lokomotif lainnya, seperti tipe diesel elektrik (DE) CC-204, di antaranya dirancang agar tahan banjir.

Lokomotif CC-300 mempunyai sistem kelistrikan yang terintegrasi dengan penggerak diesel hidrolik yang diletakkan di bagian atas lokomotif. Dengan demikian, kereta tetap bisa melaju walaupun kondisi rel tergenang air setinggi 1 meter. “Selain itu, lokomotif CC-300 juga memiliki mesin sendiri dan mesin cadangan. Sehingga saat digunakan dalam rangkaian kereta api, tidak lagi memerlukan kereta pembangkit,” jelas Cholik.

Yang lebih menarik lagi, lokomotif berkapasitas bahan bakar 3.800 liter tersebut dilengkapi kamera monitor pengintai. Kamera itu dipasang pada sisi kanan dan kiri lokomotif supaya memudahkan tugas masinis untuk mengawasi kondisi penumpang di belakangnya tanpa harus menengok ke belakang. Masinis pun cukup melihat penumpang dari layar monitor yang ada dalam kabin.

Meskipun dirancang dalam negeri, ada komponen yang harus didatangkan dari luar negeri seperti mesin penggerak (propulsi). “Untuk komponen propulsi, kita memang masih beli dari luar negeri, tapi pemilihan komponen tersebut kita cari dan sesuaikan dengan hasil rancangan kita sendiri,” ungkap Direktur Produksi PT INKA, Hendy Hendratno Adji yang menjabat kala itu.

Loading...