Harga Kroto 1 Kg Capai Ratusan Ribu Rupiah, Diduga Karena Habitat Berkurang

Harga, kroto, 1, kg, per, mahal, permintaan, meningkat, membudidayakan, budidaya, semut, merah, rangrang, angkrang, makanan, burung, ikan, ayam, peternak, habitat, pencari, telur, masyarakat, sifat, kanibal, pengepul, pepohonan, biaya, pestisida, sarang,Hasil panen kroto digelar di halaman (steller: @jeremy_jovy)

Saat ini, di sebagian daerah di berkisar antara Rp80 ribu hingga ratusan ribu per 1 kg. Dengan tingginya harga dan kroto yang kian meningkat, banyak orang yang mulai mencoba untuk membudidayakan kroto. Memelihara kroto berbeda dengan memelihara hewan pada umumnya, karena rangrang (angkrang) sebagai indukan yang menghasilkan kroto mempunyai sifat kanibal jika sedang kelaparan, maka dari itu kroto memang relatif lebih sulit.

Mahalnya harga kroto diduga akibat semakin sulitnya memperoleh merah akibat habitat semut merah yang terus berkurang. Semakin berkurangnya habitat semut merah, pengumpul pun semakin berkurang demikian juga dengan pencari telur semakin enggan mencari karena tenaga dan yang dikeluarkan tak sebanding dengan hasil yang diperoleh.

Menurut Oong, salah seorang pengepul telur semut yang masih bertahan, di Blok Cibatu, Kelurahan Munjul, Kecamatan Majalengka, permintaan telur semut dari sejumlah daerah semakin tinggi. Hal ini dikarenakan semakin banyak pecinta burung serta penggemar mancing yang menggunakan kroto sebagai bahan campuran umpan ikan.

Permintaan telur semut tersebut yang rutin berasal dari Bandung, Bogor, Subang serta Cirebon. Namun permintaan kini sulit dipenuhi karena pencari telur semut semakin berkurang seiring dengan sulitnya memperoleh telur semut karena habisnya semut di pepohonan. Ia menduga musim penghujan membuat sarang semut merah sulit diperoleh. Semut merah yang biasanya bersarang di pohon mangga kini habis karena pohon disemprot dengan pestisida dan obat penumbuh buah, akibatnya semut mati.

“Dulu mencari sarang semut mudah di setiap pohon mangga selalu ada, paling jauh mencari sarang semut ke wilayah Jatigede, atau Kertajati dan Arjawinangun, Cirebon. Sekarang di Jatigede sudah dibangun waduk, pepohonan habis terendam. Di Kertajati dijadikan bandara, demikian juga di Arjawinangun kebun dijadikan bangunan,” jelas Oong kepada Pikiran Rakyat.

Sekarang Oong harus mencari telur semut sampai ke wilayah Bantarujeg, Ciamis dan Banjar. Di wilayah tersebut masih ada pepohonan yang tidak disemprot sehingga semut bisa bersarang. Hanya sayangnya pencari telur semakin berkurang, setiap harinya paling ada tiga atau empat orang saja. Itupun perolehannya sangat sedikit, paling dua atau tiga ons saja, atau paling banyak 0,5 kg.

Sulitnya mencari kroto diakui Winar, pencari telur semut lainnya. Setiap hari ia menyusuri hutan menggunakan kendaraan trail mencari pepohonan yang ada semut merah bersarang. “Sekarang semut habis disemprot, kami jadi sulit mencari nafkah,” kata Winar. Mereka mengatakan, semut sulit dibudidayakan.

Pencari telur lainnya juga mengaku sempat mencoba membudidayakan semut sesuai petunjuk yang ada di buku dan internet, namun ternyata tidak berhasil. Semut tak mampu bertahan di sarang buatan hingga akhirnya semua mati. Kroto sendiri diminati masyarakat untuk makanan burung dan belakangan ini juga digunakan untuk makanan ikan dan ayam .

Loading...