Harga Kopi Bubuk Per Kilo Bisa Sampai Ratusan Ribu Rupiah, Di Tingkat Petani Hanya Rp 8.000/Kg

Kopi Bubuk - www.agrowindo.comKopi Bubuk - www.agrowindo.com

sebenarnya memiliki bermacam yang berkualitas dan namanya sudah menggema hingga ke luar negeri. -kopi yang diproduksi di Indonesia biasanya dalam bentuk biji (coffee bean) atau yang sudah diolah menjadi bubuk. Sayangnya karena di tingkat cukup rendah, para pun kurang bersemangat untuk menanam . Padahal potensi Indonesia cukup menjanjikan.

“Jadi selama ini yang menjadi masalah adalah harga di tingkat petani murah, akibatnya petani kurang bergairah,” kata Ketua Umum Dewan Kopi Indonesia (Dekopi), Anton Apriantono, Minggu (12/3), seperti dilansir Republika.

Hal ini tentunya sangat memprihatinkan, apalagi luas perkebunan kopi di Indonesia merupakan yang terluas di dunia yakni mencapai lebih dari 1 juta hektare. Akan tetapi lantaran para petani kurang bersemangat untuk menanam kopi, alhasil tingkat produksi kopi di Indonesia cukup rendah. “Karena harganya tidak menarik, petani bertanam kopi seadanya, tidak intens. Perkebunan kopinya kurang diurus dengan baik,” ungkap Anton.

Anton menjelaskan, harga segelas kopi di cafe-cafe bisa mencapai puluhan ribu . Padahal harga kopi di tingkat petani hanya dipatok Rp 8.000 per kilo. Anton memang mengakui jika ada dan rantai pasok dari petani hingga sampai ke konsumen. “Harusnya tidak jomplang,” imbuhnya.

Hal ini juga terbilang mengejutkan. Pasalnya beberapa pelaku usaha yang menjual kopi-kopi premium bisa mematok produk kopi bubuk besutannya hingga ratusan ribu rupiah. Sebagai contoh, untuk kopi premium bubuk dijual dengan harga Rp 195 ribu per kilogram, kemudian kopi specialty bubuk Rp 235 ribu per kg, peaberry Rp 260 ribu per kg, longberry Rp 275 ribu per 1 kg, king arabika Rp 280 ribu per kilo, dan termahal adalah wine arabika yang bisa mencapai Rp 550 ribu per kg.

Dengan adanya perbaikan harga kopi di tingkat petani diharapkan bisa menjadi solusi untuk meningkatkan dan daya ekspor. Menurut Anton selama 2 tahun belakangan ini ekspor kopi mengalami peningkatan walaupun tidak signifikan. Saat ini ekspor kopi Indonesia berkisar 300-600 ribu ton, jauh tertinggal dari Vietnam. “Kira-kira 50 persen untuk ekspor,” ujarnya.

Oleh sebab itu Dekopi mendorong para petani untuk menjual kopi dengan nilai tinggi. Caranya dengan tidak lagi menjual gelondongan mentah, tetapi menjual kopi yang telah dikupas kering. “Bahkan kalau bisa sudah di-roasting atau dijual dalam bentuk bubuk,” pungkasnya.

Loading...