Rasanya Unik & Khas, Harga Keripik Bonggol Pisang Dibanderol Terjangkau

Keripik Bonggol Pisang - pesonanusantara.co.idKeripik Bonggol Pisang - pesonanusantara.co.id

Mencicipi pisang mungkin sudah biasa. Bagaimana jika mencicipi bonggol pisang? Ya, cemilan ini mungkin masih asing di telinga sebagian orang. Namun, di beberapa sudah banyak yang mulai menekuni bisnis keripik dari bonggol atau batang pohon pisang. Dibanding keripik pisang, keripik bonggol pisang relatif lebih terjangkau.

Keripik bonggol pisang Al-Barik asal Bantul misalnya, untuk kemasan 100 gram dengan harga Rp15.000, kemasan ukuran 200 gram harganya Rp25.000, dan kemasan 300 gram dibanderol seharga Rp40.000 per bungkus. Selain mempunyai rasa yang unik dan khas, olahan makanan dari bonggol pisang ini disebut mengandung protein, mineral, serat, serta E dan C yang tinggi.

“Awalnya, kita dulu hanya membuat keripik pisang. Namun, kita kesulitan memproduksi karena harganya cukup mahal. Kita juga kesulitan menjual karena sudah banyak di . Hingga akhirnya kita mencoba hal baru dengan membuat keripik bonggol pisang ini,” kata Kelompok Wanita Tani (KWT) Al-Barik, Desa Sidomulyo, Bambanglipuro, Bantul, seperti dilansir Cendananews.

Produk olahan bonggol pisang itu rupanya disambut antusias oleh masyarakat dalam negeri maupun luar negeri. KWT Al-Barik mengaku telah memasarkannya dalam jumlah sedikit ke beberapa negara, seperti Belanda, Jerman, Hong Kong, hingga Qatar. Tak heran jika kemudian KWT Al-Barik memperoleh penghargaan dari berbagai kalangan, termasuk diundang ke India, Bangladesh, hingga Myanmar untuk memberi pelatihan.

“Proses pembuatannya sangat sederhana. Setelah dipotong tipis, bonggol pisang hanya perlu direndam dengan air kapur agar tidak pahit. Setelah itu tinggal digoreng saja,” ungkapnya. Satu buah bonggol pisang kabarnya dapat diolah jadi sekitar 1-1,5 kilogram (kg) keripik, tergantung dari ukurannya. Setiap harinya, KWT Al-Barik dapat memproduksi sekitar 20 kg keripik bonggol pisang.

“Kendala kita dalam mengembangkan usaha ini salah satunya adalah terkait modal. Kita belum punya alat mesin untuk mengolah dan mengemas produk, sehingga semua masih manual. Selain itu, kita juga tidak memiliki tempat yang memadai untuk melakukan proses . Selama ini hanya dilakukan di rumah masing-masing anggota. Jadi, masih terbatas,” katanya.

Loading...