Berasal dari Afrika, Alat Musik Kalimba 17 Kunci Dijual Harga Ratusan Ribu Rupiah

Alat Musik Kalimba 17 Kunci - keyboardindonesia.asiaAlat Musik Kalimba 17 Kunci - keyboardindonesia.asia

Masyarakat mungkin belum banyak yang familier dengan kalimba. Maklum saja, alat yang juga dijuluki “piano jempol” ini berasal dari Benua Afrika sana. Karimba alias kalimba ini belakangan begitu populer karena dianggap menghasilkan suasana yang begitu merdu dan menenangkan. Tampilannya yang sederhana dan juga terkesan etnik kalimba banyak diperjual-belikan di sejumlah seni dengan yang .

Menurut penelusuran di beberapa situs jual-beli , kalimba 17 kunci dijual dengan harga berkisar mulai dari Rp100 ribuan hingga Rp400 ribuan. Alat musik ini biasanya terbuat dari kayu mahoni, bambu, kaca, atau bahkan batok kelapa dengan tuts-tuts dari material logam. Ada juga kalimba Gecko 17 key yang harganya Rp282 ribu dan dibuat dari material kayu kamper.

Meski berasal dari Afrika, di Indonesia sudah mulai ada beberapa perajin yang mampu menciptakan kalimba. Salah satunya seperti Suprianto asal Dusun Bolot, Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, Jawa Timur. Pria yang memproduksi kalimba dari tahun 2004 silam ini mulanya hanya seorang sales, namun kini berhasil meraup omzet hingga puluhan juta rupiah dari membuat kalimba.

“Setelah menjadi sales saya beralih menjadi perajin anyaman bambu tapi bangkrut hingga akhirnya saya ke Bali. Saya harus membayar utang yang cukup banyak sehingga saya bekerja serabutan,” ungkap Suprianto, seperti dilansir Kompas.

Saat berada di Bali, ia pun terpikir untuk membuat alat musik kalimba. “Hingga akhirnya saya terpikir untuk membuat alat musik Kalimba yang saya liat di art shop bali,” kisahnya. Ia mulai membuat kalimba dengan modal awal Rp300 ribu.

“Saya coba-coba sendiri membuatnya. Awalnya ya nggak seperti ini. Sederhana sekali, polosan tanpa hiasan. Lalu saya tawarkan ke art shop di Bali dan dijual dengan harga Rp7.000 per buah. Hingga akhirnya ada pemesanan lagi sebanyak 600 unit untuk mengisi art shop-art shop yang ada wilayah Bali,” tuturnya.

Anto membuat kalimba dari batok kelapa, kayu sonokeling, dan jeruji sepeda. Setidaknya per bulan ia membutuhkan sekitar 75.000 tempurung kelapa yang diperoleh dari langganan di desa tetangga. “Saya belinya Rp1.000 per buah. Harus yang tua dengan diameternya tidak boleh lebih dari 15 sentimeter. Kalau jeruji besi saya beli di toko onderdil sepeda dan memang menggunakan yang sudah saya coba-coba sendiri. Nanti jeruji besi ini dipipihkan agar menghasilkan suara yang bagus,” tuturnya.

Loading...