Termasuk Burung Endemik, Berapa Harga Kakatua Goffin?

Burung Endemik Kakatua Goffin - www.parrot-birds.comBurung Endemik Kakatua Goffin - www.parrot-birds.com

Jenis kakatua yang ada di Indonesia memang sangat variatif. Masing-masing jenis memiliki keunikan dan khas tersendiri, tak terkecuali dengan kakak tua tanimbar atau yang juga disebut Tanimbar Corella (Goffin Cockatoo). satu ini rupanya termasuk satwa endemik yang dilindungi. Oleh sebab itu, tak banyak orang yang memperjual-belikan ini secara bebas. Jika ditelusuri di marketplace, biasanya hanya ada 1-2 yang menawarkan kakatua goffin dengan harga sekitar Rp1,8 juta, lengkap dengan sertifikat.

Sesuai dengan namanya, burung paruh bengkok ini memang merupakan burung endemik di Kepulauan Tanimar (termasuk Pulau Yamdena), Pulau Larat, dan Kepulauan Kai di Provinsi Maluku. Burung yang dikenal sangat cerdas ini mempunyai panjang dari ujung paruh kepala sampai ekor berkisar 31 cm dan berat tubuhnya 350 gram. kakatua goffin didominasi putih bersih, serta ada bulu merah jambu di antara paruh dan kedua matanya. Sedangkan untuk paruh berwarna abu-abu, matanya berwarna cokelat atau hitam pada burung jantan dan merah pada burung betina.

Di habitatnya sana rupanya burung kakatua goffin kerap dianggap sebagai hama di ladang jagung. “Anggapan masyarakat bahwa burung ini hama bagi , tidak jarang membuat petani kebun memasang perangkap. Burung yang berhasil ditangkap tersebut dikumpulkan untuk dipelihara dan ,” kata Kepala BKSDA Maluku Mukhtar Amin Ahmadi beberapa waktu lalu, seperti dilansir Antara.

Mukhtar menjelaskan, kakatua tanimbar termasuk salah satu jenis burung yang masuk dalam lampiran Pemerintah Nomor 7 tahun 1999, tentang konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya. Sanksi untuk setiap pelanggaran yakni pidana maksimal lima tahun penjara, dan denda paling banyak Rp100 juta. Sedangkan untuk status perdagangan internasional masuk Appendix I Konvensi CITES yaitu tidak dapat diperdagangkan, hanya untuk kepentingan khusus seperti riset ilmiah.

Namun demikian, satwa liar dan dilindungi kabarnya masih boleh dipelihara dengan sejumlah syarat. Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIY, Junita Parjanti menjelaskan bahwa pihak BKSDA bisa memberi rekomendasi untuk masyarakat yang ingin memelihara satwa dilindungi, yaitu dengan memberi sertifikat kategori F2.

“Ada sertifikat khusus, satwa dilindungi yang boleh dipelihara masyarakat kategori F2, satwa turunan. Kalau indukannya kategori F0, memiliki keturunan, kemudian memiliki keturunan lagi. Jadi bisa disebut generasi ketiga yang boleh dipelihara,” pungkasnya.

Loading...