Harga Jual Selangit, Pengusaha Buah Cecendet Raup Keuntungan Rp30 Jutaan Per Bulan

Buah Cecendet - (Sumber: phieoblogs.blogspot.com)Buah Cecendet - (Sumber: phieoblogs.blogspot.com)

cecendet termasuk dalam jenis tanaman liar yang banyak ditemukan di banyak tempat. Di Indonesia, cecendet juga dikenal dengan banyak nama, mulai dari ciplukan, kopok-kopokan, ciciplukan, cecenet, dan lainnya. Karena mengandung yang baik untuk kesehatan, harga jual buah ini tergolong mahal bahkan bisa tembus seharga Rp500 ribuan per kilogram.

Berbeda dengan jenis tanaman obat lainnya yang terkadang masih mengandung racun pada salah satu bagian tanamannya, namun buah cecendet dianggap bebas dari racun sehingga aman untuk dikonsumsi dalam jangka waktu yang panjang. Namun, rasanya yang begitu pahit terkadang membuat banyak orang malas mengkonsumsinya.

Buah cecendet yang juga disebut dengan morel berry ini mulanya hanya dikenal sebagai tanaman liar yang tidak mempunyai nilai jual. Namun tak disangka ternyata buah ciplukan ini berkhasiat untuk meredakan berbagai macam penyakit, termasuk menurunkan kadar kolesterol, meredakan bisul, luka, konstipasi, hingga berbagai masalah pencernaan.

Sebenarnya sudah sejak lama jenis tanaman ini telah diteliti oleh para ahli di berbagai negara. Dari penelitian yang telah dilakukan, didapatkan informasi bahwa ciplukan memiliki aktivitas sebagai antibakteri, antiflamasi, antihiperglikemi, antivirus, imunostimulan dan imunosupresan, antioksidan, dan sitotoksik. Kandungan buah cecedet sendiri terdiri dari senyawa-senyawa aktif yang terkandung di dalamnya, seperti saponin, polifenol, flavonoid, dan fisalin.

Buah cecendet ini di sejumlah toko buah, pasar swalayan, dan di beberapa toko online. Pada satu kemasan isi 100 gram dihargai Rp30 ribuan, atau setara dengan Rp250 ribu sampai Rp500 ribuan per kilogramnya. Akibat harga jualnya yang selangit ini, membuat banyak orang membudidayakan buah ciplukan ini.

Juwita, salah seorang pengusaha cecendet memulai bisnisnya sejak tahun 2015. Ia terlebih dahulu melakukan riset penanaman untuk menghasilkan buah yang baik. Mulanya ia hanya menanam lima buah biji ciplukan dan hingga kini terus bertambah hingga mencapai tiga ribu pohon.

Ia menuturkan bahwa usaha buah cecendet tidak langsung berbuah manis, atau sempat mengalami pasang surut. Contohnya pada tahun lalu ia mencoba untuk menjajakan cecendet di salah satu pasar di daerah Sumedang namun sama sekali tidak laku, padahal kala itu harga jualnya masih Rp5.000 per 120 gram.

“Itu perlu sebagai branding, sebab awalnya tidak laku karena belum banyak orang yang tahu manfaat cecendet,” ucapnya.

Saat banyak orang yang mulai mengetahui khasiat dari buah cecendet, Juwita mulai meraup untung yang besar. Ia pun terus melakukan beragam invasi cecendet, misalnya sari buah cecendet, kismis cecendet, selai, dan saos cecendet. Dan tak hanya dipasarkan di daerah Sumedang atau Jawa Barat saja, ia melebarkan sayap sebagai pemasok ciplukan di hampir semua pusat belanja di Ibu . Dari usaha yang ia lakoni saat ini, setidaknya ia bisa mengantongi laba Rp30 juta per bulan.

Loading...