Sediakan Layanan Web Hosting, Segini Harga Hosting Google

Layanan web hosting Google Cloud - cloud.google.comLayanan web hosting Google Cloud - cloud.google.com

memiliki berbagai layanan untuk menunjang di dunia maya, termasuk solusi hosting. Layanan web hosting Google Cloud memasang yang cukup bersaing dengan jasa web hosting lainnya.

Sebagai , untuk layanan app back end GCP (Google Cloud Platform) mematok biaya sekitar USD1.978,50 per bulan atau sekitar Rp29 jutaan, kemudian storage back end USD1.085,99, data warehouse USD79.995, NOSQL database USD3.164,30 per bulan, storage USD209.715 per bulan, dan geo-redundant storage USD272.630 per bulan. Sedangkan untuk email hosting G Suite, harganya berkisar mulai USD4,20 per pengguna per bulan.

Di tengah kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini, rupanya komputasi awan dan jasa penyewaan paladen di ikut terdampak karena pelanggan dari sektor UMKM dan menengah ada yang tutup atau meminta penangguhan . Meski porsinya kecil dan total seluruh pelanggan, namun tutupnya sektor bisnis tersebut mengalami peningkatan dari bulan biasanya.

Menurut Ketua Asosiasi Cloud dan Hosting Indonesia (ACHI), Rendy Maulana, di masa pandemi virus corona seperti sekarang ini banyak UMKM atau perorangan yang baru mendaftar untuk menyewa hosting, misalnya jasa kuliner. Namun ada juga yang tutup, khususnya pelanggan dari Bali, industri Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) dan transportasi. Ada pula yang meminta penangguhan pembayaran jasa penyewaan.

“Secara hitungan kenaikan [penyewaan cloud dan hosting] rata-rata tidak signifikan, tetapi tidak sampai minus,” ujar Rendy, Selasa (18/8), seperti dilansir Bisnis. Walaupun menerapkan metode belajar daring untuk sekolah-sekolah, penyewaan hosting pun ada penambahan meski tak terlalu signifikan. Pasalnya, banyak dari mereka yang menggunakan layanan Zoom atau Google Meet yang gratis daripada menyiapkan infrastruktur sendiri.

Walau demikian, Rendy menilai bahwa belakangan ini banyak yang cukup sadar dengan penyediaan hosting menggunakan layanan lokal, terutama developer lokal. Dengan adanya Revisi Peraturan Pemerintah (PP) No. 71 tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PP PSTE), bagi Rendy justru tak menguntungkan Indonesia.

Aturan yang membolehkan data center di luar negeri membuat routing internet semakin panjang dan biaya meningkat. “Isu privasi banyak disalahgunakan oleh penyedia layanan hosting luar negeri. Dengan layanan gratis namun data pelanggan dijual kepada penyedia iklan,” ujarnya.

Loading...