Harga Gula Sekilo Tetap, Pengusaha Untung Petani Buntung

Gula - webbybuzz.comGula - webbybuzz.com

Kementerian berencana akan tetap memberlakukan eceran tertinggi (HET) untuk gula di ritel sebesar Rp12.500 sekilo, guna menjaga pergerakan harga di tingkat . Hal ini dinilai menguntungkan gula, namun di sisi lain menyebabkan tebu menderita kerugian.

Masih diberlakukannya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 27 Tahun 2017 ini sontak memberikan keuntungan kepada para pengusaha gula. Terobosan yang dilakukan pemerintah tersebut dikatakan bisa memangkas dua rantai distribusi sekaligus. “Dengan demikian, saya bisa menjual ke ritel seharga Rp11.900 per kg, dan mereka bisa menjualnya ke konsumen Rp12.500 per kg,” ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Gula , Piko Nyoto Setiadi.

Sayangnya, hal ini berbanding terbalik dengan kondisi di tingkat petani tebu. Banyak petani tebu yang mengeluhkan HET gula ditetapkan Rp12.500 per kilogram. Mereka sendiri menginginkan HET gula setidaknya Rp14.000 per kilogram. “Angka tersebut wajar karena keuntungan petani tebu yang setahun sekali. Karena HET Rp12.500/kg, pedagang kemudian menekan harga ke petani dengan alasan margin distribusi yang sedikit,” tandas Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Soemitro Samadikoen.

“Harga gula lokal saat ini terbilang rendah dan membuat petani rugi lantaran harga pokok sekarang berkisar Rp10.600 per kilogram,” lanjut Soemitro. “Biaya yang tinggi juga disebabkan tingkat rendemen yang rendah dari pabrik-pabrik gula BUMN. Di sisi lain, Kementerian Perdagangan menetapkan harga acuan gula petani atau HPP Rp 9.100 per kilogram.”

Sementara itu, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas, menambahkan bahwa kebijakan HET pada gula dinilai dapat menekan petani. Tahun lalu, harga gula melonjak tinggi dengan rata-rata Rp15.000 per kilogram. Pemerintah lalu mengambil tindakan membuat perjanjian untuk menekan harga produksi, yang sayangnya tidak melibatkan petani tebu.

“Saat ini, harga produksi gula oleh petani sudah mencapai Rp10.000 per kilogram, yang berada di atas harga patokan petani yang sebesar Rp9.700 per kilogram,” katanya, seperti dilansir dari Kontan. “Ini tentunya menimbulkan situasi yang dilematis. Kalau petani menjual tinggi, tidak ada yang membeli. Sebaliknya, kalau menjual rendah, mereka yang akan rugi.”

Loading...