Berbentuk Bubuk, Harga Gelatin Halagel Dijual Mulai Belasan Ribu Rupiah

Harga Gelatin Halagel - @halagelmyHarga Gelatin Halagel - @halagelmy

Gelatin termasuk salah satu yang dibutuhkan untuk pembuatan beberapa kudapan seperti puding yang teksturnya lembut, panna cotta, hingga cheese cake. Sayangnya, beberapa gelatin dibuat dari babi karena produksinya lebih murah dibanding gelatin halal yang terbuat dari sapi atau ikan. Oleh sebab itu harga gelatin halal seperti Halagel cukup mahal jika dibandingkan dengan bubuk agar-agar.

Seperti diketahui, gelatine terdiri dari 2 jenis, yakni bubuk dan lembaran. Adapun untuk merek Halagel asal Malaysia menawarkan gelatin halal dalam wujud bubuk dengan 50 gram, 100 gram, 250 gram. Harga gelatin Halagel 50 gr dibanderol RM3,60 atau sekitar Rp12.426, 100 gram dijual seharga RM6,90 atau setara Rp23.634, dan kemasan 250 g harganya mencapai RM14,80 atau sekitar Rp51 ribuan per bungkus.

Meskipun fungsinya sepintas hampir sama dan bisa digantikan dengan agar-agar dalam beberapa resep, namun hanya gelatin yang bisa menghasilkan tekstur “melting” saat kudapan berada dalam mulut. Oleh sebab itu, penggunaan gelatin untuk resep tertentu memang penting.

Bagi umat , penggunaan gelatin sampai saat ini cukup kontroversial. Pasalnya di khususnya, masih banyak beredar gelatin non-halal yang terbuat dari babi atau gelatin tanpa label halal. Hal ini pula yang menimbulkan kebingungan bagi para konsumen yang berasal dari kalangan saat hendak membuat makanan yang memakai gelatin sebagai bahan dasarnya.

“Gelatin adalah zat rapuh yang diekstraksi dengan merebus tulang, kuku, dan jaringan . Jadi itu tergantung pada tersebut. Jika itu adalah yang dagingnya halal, seperti sapi, unta, domba dan sebagainya, maka gelatin adalah halal, dan demikian pula halnya dengan semua makanan yang disiapkan darinya. Namun, jika itu dari daging haram seperti babi, maka gelatin yang dibuat itu haram,” kata Su’aad Salih, profesor Fiqih di Universitas Al-Azhar, seperti dilansir dari DW.

Syafiq Hasyim, Direktur Pusat untuk Islam dan Pluralisme di Indonesia pun memberi penjelasan lebih lanjut terkait gelatin dari babi. “Di Indonesia tentu penggunaan gelatin dari babi diharamkan, untuk dikonsumsi maupun penggunaan pada apapun. Hal ini karena Majelis Ulama Indonesia (MUI) menganut mazhab Syafi’i,” ujar Hasyim.

“Namun di , gelatin dari babi boleh digunakan. Karena beberapa kesepakatan ulama di menganggap gelatin dari babi telah berubah zatnya dan tidak lagi mengandung babi di dalamnya. Mereka menganut mazhab Hanafi. Menurut mazhab Hanafi bila barang yang semula najis dan berubah menjadi tidak najis maka hukumnya adalah tidak najis,” imbuhnya.

Loading...