Berteknologi Canggih, Segini Harga Drone Militer Gahar Milik Sejumlah Negara

Drone RQ-4A Global Hawk - id.wikipedia.orgDrone RQ-4A Global Hawk - id.wikipedia.org

di dunia militer sudah sedemikian . Bahkan sejak beberapa tahun lalu berkembang adanya drone atau pesawat nirawak yang dapat digunakan untuk keperluan tempur karena telah dilengkapi dengan persenjataan. Beberapa seperti Amerika Serikat dan Rusia bahkan dikenal memiliki drone militer dengan yang luar biasa dan juga mematikan.

Salah satu drone militer yang terkenal adalah RQ-4A Global Hawk milik AS yang disebut-sebut sebagai teknologi militer terbaik AS. Drone pengintai (surveillance) tersebut digunakan oleh Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS. Harga 1 unit RQ-4A Global Hawk sekitar USD123 juta atau mencapai Rp1,9 triliun.

Menurut pakar drone Ulrike Franke dari European Council on Foreign Relations drone yang sempat ditembak jatuh oleh Iran di atas Selat Hormuz itu bukanlah drone sembarangan. “Ini bukanlah drone buangan yang kehancurannya akan diabaikan AS. Drone ini secara spesifik dirancang agar tak terhancurkan, sebab bisa terbang dengan sangat tinggi,” kata Franke, seperti dilansir dari Business Insider melalui Liputan6.

Selain RQ-4A Global Hawk, AS juga mempunyai drone militer lain yang tak kalah canggih seperti MQ-8B Fire Scout yang harganya mencapai USD14,6 juta atau setara Rp230 miliar, lalu ada Predator C Avenger buatan General Atomics Aeronautical yang harga per unitnya mulai dari USD12 juta – USD 15 juta atau sekitar Rp189 miliar sampai Rp236 miliar, drone Gray Eagle UAS seharga USD21,5 juta – Rp31,2 juta atau sekitar Rp339 miliar sampai Rp492 miliar, hingga MQ-9 Reaper (Predator B) seharga USD15,9 juta atau sekitar Rp250 miliar.

Tak hanya AS, Rusia pun memiliki drone militer yang juga tak kalah canggih, yakni S-70 Okhotnik yang dibuat oleh pabrikan Sukhoi. drone ini mencapai RUB1,6 miliar. Dan ada juga drone militer milik Iran Saegheh-2 yang telah diproduksi sejak tahun 2010.

Indonesia sendiri kabarnya juga memiliki drone militer atau unmanned aerial vehicle (UAV) bernama Black Eagle alias Elang Hitam yang merupakan hasil kerja sama konsorsium 6 lembaga dan PT Dirgantara Indonesia. “Pada 2020 akan dibuat dua unit prototipe. Nanti masing-masing untuk tujuan uji terbang dan uji kekuatan struktur di BPPT. Di tahun yang sama, proses sertifikasi militer juga akan dimulai dan diharapkan pada akhir tahun 2021 sudah mendapatkan dari Pusat Kelaikan Kementerian Pertahanan RI,” kata Direktur Utama PTDI Elfien Goentoro. Drone ini dijadwalkan mulai beroperasi tahun 2024 mendatang.

Loading...