Harga Dinilai Tak Sebanding dengan Proses, Jumlah Pengrajin Gula Aren Asli Berkurang

pengrajin gula aren

Meskipun sama-sama memiliki rasa yang manis, gula aren dan gula tebu biasa memiliki cita rasa yang berbeda. Bahkan beberapa makanan atau minuman akan terasa lebih sedap jika dibubuhi dengan gula aren sebagai pemanisnya. Sayangnya gula aren asli kini semakin berkurang. Karena jualnya yang tak terlalu bersinar, banyak produsen yang memutuskan untuk tak lagi membuat gula arena di Kabupaten Klungkung, Bali.

Sejak beberapa tahun lalu jumlah produsen gula aren dilaporkan berkurang lantaran hasil gula aren kabarnya sudah tak lagi menjanjikan. Kondisi juga diperparah dengan tidak adanya regenerasi. Desa Dawan Klod di Kabupaten Klungkung selama ini bukan hanya dikenal sebagai sentra , tetapi juga sentra produsen gula aren. Namun selama 5 tahun belakangan ini masyarakat yang menggeluti bisnis produksi gula aren berkurang.

“Kalau dulu hampir setiap pekarangan ada yang buat. Sejak lima tahun lalu sudah berkurang. Yang tersisa sekitar sepertiga,” kata Perbekel Dawan Klod, Nengah Suardita, seperti dilansir Bali Post.

Prospek yang kurang menjanjikan ditengarai sebagai penyebab rendahnya jumlah produsen. pembuatannya yang terbilang rumit dianggap tak sebanding dengan hasil yang diperoleh. “Buat gula ini kan lumayan prosesnya. Dari mencari aren pada kelapa. Harus naik. Belum lagi saat hujan, jadi sulit. Itu yang membuat perajin berhenti. Anak muda juga memilih bekerja ke kota,” ungkapnya.

Senasib, pengrajin gula aren di Dusun Pakel, Desa Girimulyo, Kecamatan Jogorogo, Ngawi saat ini juga semakin berkurang lantaran keberadaan bahan baku berupa badek atau cairan yang didapat dari pohon aren mulai langka. Pohon aren di kawasan hutan milik Perhutani atau area pekarangan warga jumlahnya kini dapat dihitung dengan jari.

“Sekarang dengan sepuluh tahun lalu jumlah pengrajin gula aren di wilayah sini sangat beda jauh. Kalau dulu pembuat gula aren lumayan banyak tetapi sekarang ini tinggal dua orang termasuk saya,” ungkap pengrajin gula aren bernama Sugiatun.

Gula aren sendiri kabarnya baru ramai permintaan pada momen-momen tertentu saja, misalnya saat bulan puasa Ramadan beberapa waktu lalu. “Biasanya sepi, tetapi hari pertama puasa langsung banyak yang membeli. Bisa sampai 50 bonjor (kemasan gula kelapa atau gula aren yang dibungkus dengan daun aren, isi 10 keping),” kata pedagang gula aren bernama Lilis.

Harga gula aren asli sendiri bermacam-macam, ada yang per kilo Rp 25 ribuan, ada juga yang mematok seharga Rp 150 ribu per 5 kg untuk gula aren batok. “Gula yang asli paling mahal, sedangkan yang sudah dicampur dengan gula pasir lebih murah,” tandasnya.

Loading...