Warnanya Memesona, Berapa Harga Burung Nuri Ternate?

Burung Kasturi TernateBurung Kasturi Ternate - alamendah.org

AMBON – Nuri merupakan salah satu burung paruh bengkok yang cukup terkenal di kalangan para pencinta burung. Di Indonesia sendiri, burung ini hadir dalam berbagai , dan yang tergolong unik adalah nuri Ternate. Biasa juga disebut kasturi Ternate, burung endemik Maluku Utara ini punya merah menyala, dengan paruh berwarna oranye. Di , harga satu ekor nuri Ternate bisa mencapai hampir Rp1 jutaan.

“Kasturi Ternate atau Lorius garrulus tergolong jenis endemik di Maluku Utara. Dalam bahasa Inggris, burung ini dikenal sebagai Chattering Lory, yang memiliki tiga sub-jenis, yakni morotaianus, garrulous, dan flavopalliatus,” tulus Greeners. “Burung berparuh oranye ini berukuran sedang, dengan warna merah dominan pada bulunya. Sementara, sayap, paha, dan ujung ekornya berwarna hijau terang.”

Selain warna yang cantik, kelebihan burung ini adalah punya suara tinggi dan panggilan yang sangat luas. Sebagian besar burung paruh bengkok juga dikenal sebagai penerbang yang sangat kuat, bahkan dapat terbang antar-pulau. Tak hanya itu, spesies ini pun memiliki patuk yang kuat, sehingga dapat membuka biji-bijian keras serta menetak kayu untuk mengambil larva serangga.

Dengan segala keunikan dan kelebihan yang dimiliki, tidak mengherankan jika kemudian harga nuri Ternate cukup mahal. Salah satu pemilik sempat menawarkan unggas ini di salah satu forum online dengan harga Rp850 ribuan per ekor. Sementara, dilansir dari Kompas, harga kasturi Ternate ternyata bisa menyentuh angka Rp2 jutaan per ekor.

Sayangnya, seperti diberitakan Mongabay, nuri Ternate saat ini berada di bawah ancaman. Pasalnya, nuri Ternate menjadi burung paruh bengkok paling sering diburu dalam beberapa tahun terakhir. Sebuah studi dari organisasi non-pemerintah yang peduli soal burung menyebutkan bahwa kasturi Ternate adalah jenis paling sering ditangkap, disusul kakatua putih, electus parrot, dan nuri kalung ungu.

“Berdasarkan kajian kami, antara Februari hingga Desember 2018, burung banyak ditangkap di Halmahera Utara dan Halmahera Selatan,” ujar Benny Aladin, Biodiversity Officer Burung Indonesia. “Perburuan dan paruh bengkok marak karena pengawasan di pulau-pulau terluar relatif lemah. Dalam kajian Burung Indonesia, pemburu yang memiliki dari kalangan aparat merasa lebih aman dan memiliki kekuatan untuk terus berdagang paruh bengkok.”

Loading...