Harga BBM Naik, Garuda Indonesia dan Thai Airways Alami Kerugian di 2017

kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) - www.beritasatu.comkenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) - www.beritasatu.com

KUALA LUMPUR – Sejumlah di harus mengalami kerugian sepanjang tahun 2017 lalu akibat kenaikan bakar minyak (BBM) serta penurunan pemesanan tiket pesawat karena kompetisi yang kian ketat. Kerugian juga disebabkan tidak terduga, seperti denda amnesti pajak di dan kenaikan bea cukai bahan bakar di Thailand.

Seperti dilansir Nikkei, Garuda Indonesia dan Thai Airways harus mencatatkan kerugian bersih pada tahun fiskal 2017 meski ada pertumbuhan pendapatan dari meningkatnya untuk udara. Garuda Indonesia membukukan kerugian sebesar 213,4 juta dolar AS di tahun lalu, meski pendapatan operasional naik 8 persen per tahun menjadi 4,2 miliar dolar AS. Di sisi lain, Thai Airways mencatatkan kerugian sebesar 67 juta dolar AS tahun lalu, namun ada pertumbuhan pendapatan operasional sebesar 6,3 persen.

Kedua perusahaan tersebut mengatakan bahwa kerugian disebabkan kenaikan harga BBM yang mendekati 25 persen, serta penurunan angka menjadi 3 persen untuk Garuda dan 7 persen untuk Thai Airways. Penghasilan juga ditekan oleh biaya tak terduga, seperti denda yang terkait dengan amnesti pajak untuk Garuda dan kenaikan cukai bahan bakar untuk Thai Airways.

Meskipun mengalami kerugian, Nomura tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan pendapatan sebesar 4 persen untuk Thai Airways pada tahun ini. Sementara, untuk membendung kerugian lebih lanjut, Garuda Indonesia berencana mengurangi 10 rute di tahun 2018, selain menegosiasikan ulang kontrak dan memindahkan pesawat untuk rute baru di kawasan ASEAN.

Terlepas dari kerugian yang dialami maskapai, permintaan perjalanan udara di Asia Tenggara tetap kuat, yaitu 75 persen untuk Garuda Indonesia, 79 persen untuk Thai Airways, dan 88 persen untuk AirAsia, yang dihitung dari faktor beban atau persentase kursi yang dipesan. AirAsia sendiri mengatakan pada bursa saham Selasa (27/2) kemarin bahwa pendapatan mereka meningkat sebesar 42 persen menjadi 9,7 miliar ringgit pada tahun 2017 karena lalu lintas penumpang yang tumbuh 11 persen menjadi 39 juta orang.

Rekan grup lainnya juga mencatat pertumbuhan jumlah penumpang yang dibawa, yaitu kenaikan sebesar 15 persen untuk Thai AirAsia dan 81 persen untuk AirAsia India. Sementara, AirAsia Jepang, yang mulai beroperasi pada bulan Oktober, membawa 29.455 penumpang dengan load factor sebesar 64 persen. Kelompok tersebut sendiri berencana menambahkan lima armada pesawat pada kuartal pertama 2018 untuk memenuhi naiknya permintaan di Asia Tenggara.

Loading...