Harga Batang BMX Asli Relatif Mahal, Animo Masyarakat Tetap Tinggi

Batang BMX - (Sumber: bmxarena.com)Batang BMX - (Sumber: bmxarena.com)

Bicycle Moto Cross atau yang lebih dikenal dengan sebutan BMX muncul pertama kali pada tahun 1970 di California. Saat ini, telah banyak Indonesia yang juga menggunakan jenis BMX, hingga tak sedikit dari mereka yang terjun langsung dalam jenis yang satu ini.

Meskipun harga jual sepeda seperti Mountain Bike, Fixie dan BMX menguras kantong, namun tetap saja antusias masyarakat untuk membelinya cukup tinggi. Bahkan, untuk merakit sebuah sepeda impian dengan komponen berkualitas, harganya bisa mencapai Rp80 jutaan. Untuk batang atau frame BMX asli saja dengan harga kisaran mulai dari Rp350 ribuan hingga Rp2.4 jutaan. Baik untuk jenis BMX street, flatland, maupun freestyle.

Bahkan beberapa bengkel sepeda memaparkan untuk harga sepeda standar yang ada di tokonya dengan harga kisaran Rp2 juta hingga Rp10 jutaan. Ada juga sepeda rakitan berbagai sparepart berkualitas, jika sudah terbentuk, harganya mencapai Rp80 jutaan.

“Semua tergantung minat dan kebutuhan seseorang. Semakin banyak menggunakan sparepart nomor wahid, maka semakin tinggi harga sepeda tersebut,” ungkap Dedi Yuliafsah, pemilik Bengkel Bike Cibubur.

Berbicara tentang olahraga sepeda BMX mungkin akan lekat dengan salah satu atlet BMX Indonesia yang sempat beraksi di Olimpiade Rio tahun lalu. Siapa lagi kalau bukan Toni Syarifudin. Pria asal Solo itu merupakan atlet Indonesia pertama yang mampu menembus kualifikasi untuk tampil bersaing di Olimpiade dalam cabang olahraga BMX.

Toni Syarifudin mengaku mengenal olahraga BMX sejak tahun 2005, atau sekitar 11 tahun yang lalu, lewat rekan-rekan di sekitar rumahnya. Dan semula, sang Ibunda sempat resisten terhadap olahraga ini, karena BMX merupakan salah satu olahraga ekstrim dan kerap diidentikkan dengan anak nakal.

“Dulu pertamanya enggak didukung. Ibu takut, kan ini olahraga ekstrem, agak bahaya sih. Tapi kan kita juga pakai pengaman, pelindung lutut sama tangan. Akhirnya mungkin bapak ngasih tau ibu, lagian ini kan positif. Terus akhirnya didoain aja, dan akhirnya didukung sampai sekarang,” ujar Toni.

Selama 11 tahun bermain BMX, Toni pun sempat mengalami pasang surut motivasi. Namun ia punya cara jitu untuk menguatkan kembali motivasinya, yakni dengan banyak berbincang bersama orang tua, teman, ataupun pelatih. Cara tersebut dianggapnya bisa membangkitkan semangat agar tidak mudah menyerah.

Masuk ke Olimpiade merupakan mimpi bagi seorang atlet BMX karena Indonesia belum pernah mengirimkan atlet sepeda di nomor manapun dalam sejarah Olimpiade. Namun karena kegigihan Toni dan semangat dari tim pelatih, kini mimpi tersebut jadi nyata. Tak hanya Toni, orang tuanya pun bahkan tak mengira anaknya bisa lolos ke kompetisi olahraga tertinggi di dunia tersebut.

Berkat kecintaannya pada dunia BMX, Toni telah mengikuti berbagai ajang . Dalam kompetisi pertamanya di Thailand pada tahun 2008 ia langsung mendapatkan juara pertama. Sejak saat itu, ia pun telah pergi ke berbagai negara untuk berkompetisi, bahkan ia sempat mendapatkan beasiswa selama empat tahun dari World Cycling Center di Swiss.

Loading...