Untuk Memindai Tubuh, Harga Alat MRI Capai Miliaran Rupiah

Harga Alat MRI - www.rs-mattaher.comHarga Alat MRI - www.rs-mattaher.com

JAKARTA – Selain CT scan, metode lain yang kerap digunakan di bidang kedokteran untuk mendeteksi adanya penyakit di dalam tubuh adalah MRI scan. Ini merupakan pemeriksaan dengan teknik pengambilan detail organ dari berbagai sudut yang menggunakan medan magnet dan gelombang radio, biasanya untuk pemeriksaan tumor. Karena mampu menghasilkan organ yang lebih detail, tidak mengherankan jika kemudian MRI pun terbilang mahal.

“Kegunaan alat tersebut sangat dibutuhkan oleh para bedah. Sebab, dengan hasil scan atau pemotretan, bedah yang ingin melakukan bedah saraf di kepala, jantung, otot, atau patah tulang dan sebagainya, sangat terbantu,” papar Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSUZA Banda Aceh, dr. Andalas, SpOG, dilansir Serambi. “Hasil pemindaian melalui MRI itu akan memandu dokter bedah untuk menangani penyakit pasien dengan akurat.”

Dengan segala kecanggihan dan manfaatnya tersebut, tidak mengherankan jika kemudian alat MRI dijual dengan harga cukup mahal. Model seperti yang dimiliki RSUZA Banda Aceh misalnya, punya harga berkisar Rp40 miliar hingga Rp50 miliar per unit. “Jadi, kita harus menjaganya dengan baik agar alat itu bisa digunakan dalam waktu yang lama,” sambung dr. Andalas.

Dilansir dari katalog LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa ), harga alat MRI memang berkisar miliaran . Siemens MRI SKYRA 3T misalnya, punya banderol Rp36,036 miliar, sedangkan harga Siemens MRI AERA 1.5T sekitar Rp24,697 miliar. Merk lainnya, Hitachi MRI System Aperto Lucent 0.4 Tesla, dijual Rp11,694 miliar dan harga Draeger Fabius MRI sekitar Rp2,030 miliar. 

Walau sama-sama berfungsi sebagai alat pemindaian, ternyata MRI scan dan CT scan memiliki target yang berbeda. Menurut penjelasan Prof. dr. Teguh Ranakusuma, SpS(K), dari Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, MRI scan untuk melihat tubuh sampai ke sel, sedangkan CT scan hanya mengamati anatomi tubuh secara kasar.

Kondisi yang dapat diperiksa dengan MRI di antaranya tumor atau perubahan pada otak yang mengarah ke indikasi pikun, sedangkan CT scan lebih banyak dipergunakan untuk mengecek ada tidaknya pendarahan atau benturan. “Jadi harus pemeriksaan fisik dulu, yang ditemukan apa, baru dilakukan pemeriksaan. Tidak langsung dipakai untuk semua,” katanya.

Loading...