Promo Halal Tourism, Pemerintah Jangan Hilangkan Jati Diri Daerah

Presiden Jokowi mengunjungi Geosite Sipinsur, Humbahas, SumutPresiden Jokowi mengunjungi Geosite Sipinsur, Humbahas, Sumut - sumut.idntimes.com

JAKARTA – Seiring dengan populasi umat yang terus meningkat, Indonesia saat ini tengah gencar mempromosikan halal tourism untuk menarik lebih banyak ke Tanah Air. Sayangnya, dengan memburu turis-turis asing beragama , seolah abai dengan jati diri daerah setempat sehingga memancing respon berbagai pihak, salah satunya sikap reaktif masyarakat sekitar Danau Toba di Sumatera Utara.

“Rasa-rasanya kok saya rada kaget dengan respon beberapa pihak tentang halal tourism di Indonesia. Dan, kalaupun ada pihak yang paling (mudah) disalahkan, mungkin adalah pemerintah,” tulis Ibrahim Kholilul Rohman yang bekerja di European Commission, dalam akun Facebook resminya. “Menurut saya, pemerintah (decision makers atau kementerian terkait), belum bisa menjelaskan road-map dan platform pengembangan yang secara mutual bisa dipahami oleh masyarakat setempat.

Menurut Ibrahim, halal tourism tak lebih ‘hanya’ business model atau business process yang baru untuk menangkap arus wisatawan dari Islam dengan memberikan spaces destination yang Muslim friendly tanpa kehilangan jati diri daerah tersebut. Ini sama seperti promosi halal tourism di Jepang, Korea, Thailand, atau Spanyol yang saat ini sedang marak.

“Beberapa tahun lalu, sekitar tahun 2014-an, menemukan halal di Spanyol sulit sekali. Ingatan saya, hanya ada dua yang dekat most iconic landmark (Cathedral de Seville),” sambung Ibrahim. “Di sisi lain, masyarakat Spanyol sendiri amat sangat pork society. Semua babi hadir dalam hidangan dan urat nadi kehidupan mereka, mulai sarapan, makan siang, dan makan malam.”

Namun, ketika halal tourism berembus di Spanyol tiga hingga empat tahun terakhir, sambung Ibrahim, dengan mudah kita akan melihat perubahan pemandangan yang luar biasa. Di sekitar Cathedral Seville, mungkin ada 5-6 restoran halal. Di Cordoba, di sekitaran cathedral-mesquita, ada lebih banyak lagi, bahkan ada Thai food dan langsung dilabeli halal.

“Terus, yang jamon-jamon/ham-ham tadi bagaimana ceritanya? Tetap, restorannya tetap ramai. Wisatawan Eropa sangat menikmati untuk berkunjung ke Spanyol,” tambah Ibrahim. “Bedanya adalah extended market dari wisatawan baru dari negara-negara Muslim yang sangat dimudahkan. Mungkin semangat seperti ini yang seharusnya disampaikan agar resistensi masyarakat setempat tidak muncul.”

Hampir senada, pengamat , Sapta Nirwandar, seperti dilansir Bisnis, mengatakan bahwa wisata halal bukan berarti mengubah suatu kawasan sesuai syariat Islam, melainkan destinasi tersebut memiliki fasilitas atau yang ramah bagi wisatawan Muslim. dan fasilitas yang dimaksud misalnya kemudahan untuk menemukan makanan halal, tempat salat yang memadai, hotel yang ramah, dan juga tempat rekreasi yang sesuai dengan kebutuhan pelancong.

Loading...