Hajar Dolar, Rupiah Ditutup Menguat Tajam 157 Poin

memanfaatkan momentum keterpurukan dolar AS di tengah penantian petunjuk Gubernur Bank Sentral AS (). Menurut data Bloomberg Index pada pukul 15.59 WIB, hari ini (10/2) Garuda ditutup menguat ke level Rp13.455 per dolar AS. 157 poin atau 1,15 persen dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di Rp13.612 per dolar AS.

Sempat melemah 11 poin atau 0,08 persen ke Rp13.623 dolar AS pada perdagangan pagi, rupiah mulai menggeliat di sesi siang. Bahkan pada pukul 12.54 WIB, mata uang Garuda menguat hingga 214 poin atau 1,57 persen dan menembus level Rp13.398 per dolar AS. Posisi ini sekaligus menjadi yang terkuat sejak 9 Oktober 2015 lalu yang berada di level Rp13.412 per dolar AS.

Keperkasaan rupiah juga diwartakan Yahoo Finance. Pada pukul 16.01 WIB, mata uang Garuda melonjak ke level Rp13.460 per dolar AS. Rupiah terapresiasi 130 poin atau 0,96 persen dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di Rp13.590 per dolar AS.

Menurut Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, dolar AS memang masih berada di bawah tekanan karena menantikan petunjuk dari Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat, Janet , mengenai arah kebijakan selanjutnya terkait kenaikan suku bunga acuannya. “Dolar AS telah melemah terhadap sebagian besar mata uang dunia dalam beberapa hari terakhir,” jelasnya.

“Sebagian pelaku uang menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed tahun ini menjadi 30 persen,” lanjut Ariston. “Kalangan analis juga mulai memperhitungkan prospek Bank Sentral Amerika Serikat yang akan mengikuti langkah dan Jepang dalam mengadopsi tingkat suku bunga negatif jika perekonomian terus memburuk.”

Sementara menurut Senior Regional Economist Barclays Plc di Singapura, Wai Ho Leong, pelaku pasar banyak yang menilai bearish untuk dalam beberapa waktu terakhir dan sekarang mereka melihat basis fundamental Indonesia semakin membaik. “Usai liburan Imlek, banyak investor yang akan memburu aset-aset Indonesia,” tambahnya.

Loading...