Gramovox, Gramophone Modern yang Dijual Seharga Rp5 Jutaan

Harga, gramophone, gramofon, modern, antik, klasik, pemutar, musik, piringan, hitam, speaker, teknologi, bluetooth, portable, koper, turntable, corong, suara, streaming, nada, user, bekas, pecinta, budaya, barang, kuno, bunyi, Yogyakarta, unik, bentuk, nyanyian, terompetSpeaker Gramovox dengan fitur berteknologi terkini (sumber: gramovox.com)

Pecinta musik tentu sudah tidak asing dengan salah satu perangkat pemutar musik lawas bernama gramophone atau gramofon. Gramofon tidak menggunakan tabung silinder untuk memutar musik, tetapi menggunakan piringan hitam. Gramophone sebenarnya identik dengan corong yang mengeluarkan nyanyian dari masa lalu. Suara pemutar musik ini memang kadang bagus kadang sumbang, namun itulah bunyi masa lalu yang terekam dalam piringan hitam.

Jika Anda ingin merasakan nostalgia mendengarkan musik melalui pemutar musik klasik gramofon namun tidak memiliki piringan hitam, Anda bisa memanfaatkan speaker dan , Gramovox. Speaker ini memiliki bentuk mirip dengan gramofon antik namun dibekali dengan streaming musik terkini. Dengan koneksi bluetooth yang dibenamkan, Anda bisa memainkan koleksi musik di ponsel, tablet atau pemutar musik yang sudah dilengkapi tersebut, dan mengalunkannya melalui corong Gramovox yang antik ini.

Gramovox diklaim sebagai gramofon pertama di dunia yang dibekali koneksi bluetooth. Speaker ini didesain berdasar model dari speaker terompet Magnavox R3 buatan tahun 1920. Tak seperti speaker standar lainnya, speaker ini mampu menghadirkan user experience dengan suara klasik dan tingkat nada menengah yang organis.

Gramovox yang dibekali dengan baterai li-ion mampu bertahan selama 15 jam saat digunakan untuk memainkan musik dan bluetooth yang dibenamkan mampu digunakan hingga jarak 3 kaki atau lebih dari 9 meter. Gramovox tersedia dalam dua warna yang disesuaikan dengan warna kayu yang alami, yakni walnut gelap dan maple terang.

Speaker berbentuk gramofon ini didaftarkan di situs Kickstarter dan telah melampaui target penggalangan dana sebesar US$124,800 dari target $100,000 padahal masih ada waktu lebih dari dua minggu sebelum kampanye ini ditutup. Untuk para pendukungnya, Gramovox dijual dengan $249 (setara Rp3,1 jutaan) dan kemudian dipasarkan secara bebas dengan $349 atau sekitar Rp5,1 jutaan.

Saat ini semua peralatan pemutar, baik yang manual atau engkol seperti gramofon ataupun pemutar listrik sepertinya sudah kedaluwarsa, pabriknya sudah banyak yang tutup, sedangkan sparepart-nya juga susah didapat, hanya para pecinta gramophone dan turntable saja yang masih merawat dan memutarnya.

Tidak banyak memang kalangan pecinta musik gramophone ini, namun bukan berarti tidak ada. Darodjat, mengaku bukan pecinta musik, namun kecintaannya terhadap alat-alat tua mengantarnya sebagai kolektor piringan hitam agar gramofon di rumahnya bisa ‘bernyanyi’. ”Mayoritas gramofon yang saya dapatkan tidak bunyi, rusak,” kata Darodjat saat ditemui Tempo dalam pameran Gramapun dan Turntable ‘Corong Bernyanyi’ di Bentara Budaya Yogyakarta.

Semua koleksi piringan hitam dan gramofon yang dikumpulkan sejak 2001 berada di ruangan khusus ini. Ketika alat putar musik itu mengeluarkan suara, saat itulah, kata Darodjat, dia sedang menikmati yang luar biasa. ”Ini jarang saya bersihkan. Kalau debunya tambah tebal kan tambah klasik,” katanya.

Koleksi pertama pemutar musik tua itu didapatkannya di pasar loak Triwindu, Solo, pada 2001. Dia membelinya seharga Rp 1,5 juta. Pada 2004, Darodjat berkisah, ada pengepul bekas menawarkan gramofon portable atau koper. Kondisinya rusak parah. Tak ada yang berminat meski gramofon itu dijual kurang dari Rp 1 juta. Darodjat pun tak menggubrisnya. Namun dia justru tak bisa tidur membayangkan gramofon rusak yang ditawarkan kepadanya itu. ”Malam saya telepon, besok paginya saya ambil,” ujarnya.

Loading...