Go-Jek Geser ‘Gigi’ Untuk Lawan Grab dan Uber

JAKARTA – Go-Jek telah menjadi platform all-in-one yang populer di . Bergerak dalam antar-jemput di awal berdirinya, Go-Jek kemudian juga melayani antar paket hingga partner kurir untuk perusahaan lokal besar seperti Tokopedia. Kini, Go-Jek siap bersaing dengan perusahaan yang lebih dulu berdiri, dan , untuk menjadi yang terdepan dalam platform layanan antar-panggil.

Untuk tetap berada di depan Uber dan Grab, Go-Jek memang harus bergerak cepat. Pada bulan Agustus 2016, perusahaan mengumumkan bahwa mereka telah mengumpulkan 550 juta AS dari investor, termasuk perusahaan , KKR dan Warburg Pincusa. “Kami berharap dapat terus menarik bakat kelas dunia untuk salah satu perusahaan teknologi yang paling dinamis di dunia,” kata Direktur KRR Asia, Terence Lee.

Namun, Go-Jek masih menemui kendala lain, yaitu mengenai pembayaran. Di negara yang 99 persen penduduknya masih melakukan transaksi secara tunai, perusahaan masih menunggu hingga semua orang memiliki rekening agar dapat melakukan pembayaran melalui . “Kami perlu untuk memindahkan 100 juta orang Indonesia ke dunia transaksi ini,” kata pendiri sekaligus CEO Go-Jek, Nadiem Makarim.

Makarim sendiri mengakui bahwa sejak diluncurkan pertama kali pada tahun 2015 lalu, perusahaan miliknya tersebut memang berkembang sangat pesat. Meski Uber dan Grab terlebih dulu mengenalkan layanan taksi panggilan, tetapi Makarim adalah orang pertama yang membuka potensi sesungguhnya dari tukang ojek.

“Saya segera menyadari bahwa ojek adalah aset yang sangat undervalued,” katanya kepada Nikkei Asia pada bulan Juni 2015. “Ada in-efisiensi pasar yang besar ketika mereka bisa melakukan lebih banyak tapi tidak ada tingkat kepercayaan dan tidak ada teknologi yang mendukung. Jadi, solusinya adalah sebuah aplikasi yang menghubungkan pengguna dan driver melalui ponsel.”

Kurang dari dua tahun setelah diluncurkan, Go-Jek telah di-download hingga 30 juta kali, atau sekitar satu dari tiga pengguna smartphone di Indonesia. Pada bulan Juli 2016, laporan Tech di Asia menyebutkan, Go-Jek telah dipesan sebanyak 20 juta kali di bulan Juni saja, atau sekitar delapan kali per detik.

Banyak kalangan yang kemudian membandingkan Go-Jek dengan WeChat, aplikasi populer buatan China sebagai gateway untuk pemesanan taksi, memesan makanan, dan mengelola uang. Namun, Makarim mengangkat bahu untuk perbandingan itu. “WeChat bekerja dengan pihak ketiga, dan tidak ada Go-Jek lainnya di dunia,” katanya.

Loading...