Bergerak Terbatas, Rupiah Akhirnya Ditutup Menguat

Rupiah menguat pada perdagangan Senin (11/8) sore - investor.id

JAKARTA – Setelah bergerak dalam kisaran yang relatif sempit, rupiah akhirnya mampu menutup Senin (11/8) sore di area hijau ketika indeks AS masih berusaha mengembalikan ototnya. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 14.57 WIB, Garuda ditutup menguat 25 poin atau 0,17% ke level Rp14.895 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) di posisi Rp14.936 per dolar AS, menguat 73 poin atau 0,49% dari perdagangan sebelumnya di level Rp15.009 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia mengungguli , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,27% dialami won Korea Selatan dan baht Thailand.

“Saya optimistis mata uang Garuda dapat bertahan di kisaran Rp15.500 hingga akhir 2020, salah satunya karena fasilitas repurchase agreement atau repo line dari bank sentral AS, The Federal Reserve,” tutur ekonom senior Samuel Sekuritas Indonesia, Ahmad Mikail, dilansir Bisnis. “Adanya repo line yang dapat digunakan Bank Indonesia jika membutuhkan likuiditas tambahan dalam bentuk dolar AS tersebut menunjukkan bagaimana BI dianggap penting oleh pemerintah AS.”

Dari global, indeks dolar AS bergerak naik terhadap sebagian besar mata uang utama pada hari Senin, ketika langkah-langkah pemerintah AS dan negara-negara lain untuk membuka kembali mereka meningkatkan harapan untuk pemulihan global yang lebih cepat dari resesi mendalam yang dipicu oleh . Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,136 poin atau 0,14% ke level 99,870 pada pukul 15.05 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, pada hari Jumat (8/5) menunjukkan AS mengurangi 20,5 juta pekerjaan pada bulan April 2020, penurunan paling tajam dalam daftar gaji sejak Great Depression. Namun, para investor optimistis dapat melewati angka ekonomi yang suram saat mereka bertaruh pada pertumbuhan di masa depan.

“Berita buruk tentang pasar AS hampir seperti yang sudah diprediksi, dan orang-orang sekarang berasumsi bahwa aktivitas ekonomi akan dimulai kembali lebih cepat di Amerika Serikat dan Eropa,” kata kepala penelitian pasar Jepang di JP Morgan Securities di Tokyo, Tohru Sasaki. “Kita tidak harus begitu bearish pada dolar AS.”

Loading...