Gerak Terbatas, Rupiah Akhirnya Ditutup Menguat

rupiah - banjarmasin.tribunnews.comrupiah - banjarmasin.tribunnews.com

JAKARTA – Setelah bergerak pada kisaran yang sempit, akhirnya menutup Kamis (11/4) di area hijau, menyusul pelemahan yang masih dialami greenback selepas notulen . Menurut catatan Index pada pukul 15.55 WIB, mata uang Garuda menguat 13 poin atau 0,09% ke level Rp14.140 per AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.156 per dolar AS, hanya terdepresiasi 1 poin atau 0,01% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.155 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, pergerakan mata uang di cenderung sempit, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,2% menghampiri ringgit Malaysia.

Dari , indeks dolar AS melayang di dekat posisi terendah dua minggu pada hari Kamis, karena risalah Federal Reserve memperkuat kebijakan dovish baru-baru ini, sedangkan pound sterling stabil setelah para pemimpin Eropa memperpanjang batas waktu bagi Inggris untuk meninggalkan serikat. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,035 poin atau 0,04% ke level 96,911 pada pukul 14.21 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, dolar AS hampir tidak memiliki momentum untuk membalikkan posisi, karena risalah dari pertemuan terakhir menguatkan sikap kebijakan dovish baru-baru ini tanpa perubahan pada tingkat yang diharapkan. Para gubernur AS juga memperdebatkan kemungkinan langkah kebijakan yang dapat dilakukan setelah mereka mengakhiri program pengurangan neraca pada bulan September, dengan beberapa menganjurkan pembelian sekuritas Treasury AS pada saat itu.

“Notulen dari hasil pertemuan The Fed untuk Maret yang dirilis Rabu (10/4) malam memperkuat sikap dovish-nya dengan memberikan sinyal bahwa bank sentral tersebut tidak akan menaikkan suku bunganya pada tahun ini,” papar Kepala Strategi Sumitomo Mitsui Bank, Daisuke Uno. “Beberapa orang mengatakan notulen tersebut berisi beberapa kejutan, tetapi jika diperhatikan, notulen tersebut menunjukkan bahwa The Fed kemungkinan akan menjadi lebih dovish.”

Greenback juga harus melepaskan kenaikan sebelumnya terhadap euro, ketika Presiden Bank Sentral Eropa, Mario Draghi, menggarisbawahi risiko yang meningkat yang dihadapi ekonomi di zona Benua Biru. ECB membiarkan sikap ultra-mudahnya tidak berubah seperti yang diharapkan dan Draghi mencatat bahwa ekonomi lemah.

Loading...