Gerak Sideways, Rupiah Lanjut Melemah di Awal Selasa

Rupiah - www.dbs.idRupiah - www.dbs.id

JAKARTA – masih terpantau bergerak di area merah pada perdagangan Selasa (19/11) pagi. Setelah dibuka di level Rp14.079 per AS, sama seperti penutupan hari sebelumnya (18/11), mata uang Garuda lanjut melemah 11 poin atau 0,08% ke posisi Rp14.090 per AS pada pukul 08.18 WIB.

“Pergerakan rupiah masih datar, mengingat belum ada signifikan dari dalam negeri maupun dari eksternal yang mampu menggerakkan rupiah,” ujar ekonom Bank Central , David Sumual, dilansir dari Kontan. “Hal tersebut masih akan terjadi pada pergerakan mata uang Garuda hari ini, terlebih data ekonomi , seperti current account deficit (CAD) dan neraca perdagangan kuartal III 2019, sudah rilis pekan lalu.”

Direktur Garuda Berjangka, Ibrahim, menambahkan bahwa rupiah bergerak sideways karena pelaku cenderung wait and see menanti rilis notulensi FOMC meeting Oktober pada 20 November besok. Selain itu, juga menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada tanggal 21 November mendatang.

“Bank Indonesia juga akan mengumumkan data angka kredit perbankan untuk periode September pada hari Rabu 20 November esok. Namun, data kredit pada bulan Agustus hanya tumbuh 7,89%,” papar Ibrahim. “Jika angka kredit tumbuh lebih rendah dari perkiraan, maka saham-saham di sektor bisa jadi dihindari pelaku pasar untuk sementara waktu.”

Sementara itu, berdasarkan analisis CNBC Indonesia, tampaknya pelaku pasar masih berfokus kepada perkembangan hubungan AS-China. Setiap kabar terbaru soal upaya mencapai perjanjian damai dagang ‘fase I’ pasti langsung mendapat respons. Kabar terbaru menyebutkan bahwa Beijing agak pesimistis dengan masa depan kesepakatan tersebut.

“Mood di Beijing soal kesepakatan dagang agak pesimistis, seorang pejabat pemerintah memberitahu kepada saya. China kurang nyaman setelah Trump (Presiden AS, Donald Trump) mengatakan tidak ada penghapusan bea masuk,” kata jurnalis CNBC International, Eunice Yoon. “Sekarang, strateginya adalah melanjutkan pembicaraan, tetapi (China) terus menunggu perkembangan kemungkinan pelengseran (Trump) dan Pemilu AS 2020.”

Loading...