Gerak Relatif Mendatar, Rupiah Akhirnya Ditutup Melemah 0,06%

Rupiah - www.komoditas.co.idRupiah - www.komoditas.co.id

Setelah bergerak relatif datar sepanjang perdagangan Rabu (11/4) ini, akhirnya harus menerima kenyataan berakhir di teritori negatif meski kurs Asia mayoritas menguat. Menurut laporan Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, Garuda menyelesaikan transaksi dengan pelemahan sebesar 8 poin atau 0,06% ke level Rp13.759 per AS.

Sebelumnya, rupiah sempat ditutup menguat 10 poin atau 0,07% di posisi Rp13.751 per dolar AS pada akhir dagang Selasa (10/4) kemarin. Mata uang NKRI lalu berbalik melemah 1 poin atau 0,01% ke level Rp13.752 per dolar AS saat membuka hari. Gerak relatif mendatar, spot akhirnya harus mengakhiri transaksi di area merah.

Sementara itu, siang tadi Bank Indonesia menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp13.747 per dolar AS, naik 12 poin atau 0,08% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.759 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia unggul atas , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,13% menghampiri yen Jepang.

Dari pasar , indeks dolar AS bergerak mendekati level terendah dua minggu pada hari Rabu, setelah Presiden , Xi Jinping, berjanji memotong tarif , sekaligus meredakan kekhawatiran tentang konflik perdagangan AS-China. Mata uang Paman Sam terpantau stagnan di posisi 89,587 pada pukul 11.14 WIB, dekat dari posisi 89,544, level terendah sejak 28 Maret.

Seperti diberitakan Reuters, pada Selasa kemarin, Presiden Xi Jinping berjanji untuk membuka negara lebih lanjut dan menurunkan tarif impor pada produk seperti . Selepas pidato Xi, yang dinilai meredakan kekhawatiran perang dagang antara dua terbesar dunia, bursa saham global melakukan rally dan minyak melonjak lebih dari 3%.

“Dolar mungkin akan tetap di bawah level 108 terhadap yen dalam waktu dekat, terutama karena memanasnya ketegangan geopolitik,” tutur kepala perdagangan di Asia-Pasifik untuk OANDA, Stephen Innes. “Bahkan, saya pikir, retorika perang dagang belum akan berakhir dan pelaku pasar mungkin akan lebih memilih mengambil posisi dalam yen, menguatkan kemungkinan gelombang risiko berikutnya.”

Loading...