Peka Isu Sosial dan Lingkungan, Gen Z Mendefinisikan Ulang Tujuan Bisnis

Gen Z - capturehighered.comGen Z - capturehighered.com

TOKYO – Generasi milenial, yang lahir dari awal 1980-an hingga pertengahan 1990-an, sering dikatakan sebagai individualistis sampai narsisme. Sebaliknya, Generasi Z telah dibentuk oleh ketidakpastian , , dan lingkungan. Meski demikian, generasi ini lebih melek terhadap dan teknologi. Terhubung secara global dan sangat sadar akan isu-isu sosial dan lingkungan, Generasi Z dikatakan akan mendefinisikan ulang tujuan dan ekonomi.

“Lebih dari generasi lain yang datang sebelumnya, Generasi Z lebih siap untuk membuka dompet mereka untuk mempromosikan tentang dampak sosial, seperti iklim, LGBTQ, ras atau keadilan sosial,” kata Sertac Yeltekin, chief operating officer Insitor Partners yang berbasis di Singapura. “Ini memberi mereka kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk membentuk kesuksesan atau kejatuhan . Mereka secara intrinsik sadar bahwa mereka dapat mendorong perubahan .”

Hingga tahun 2030, Gen Z akan menjadi segmen terbesar di dunia, menurut penyedia riset pasar, Euromonitor International. Sembilan ratus enam puluh juta orang tersebut akan berada di , dan perusahaan yang menginginkan mereka sebagai karyawan dan sebagai pelanggan harus menjadi lebih baik, termasuk terhadap isu lingkungan, sosial, dan tata kelola mereka ke kelompok demografis yang peduli.

“Pada kenyataannya, banyak perusahaan masih melihat ESG sebagai semacam mode,” tutur Masaya Yomaru, yang mempelajari Gen Z di agensi periklanan terbesar Jepang, Dentsu. “Cara berjalannya, mereka akan perlu mulai berpikir tentang keberlanjutan lebih sebagai bagian penting dari bisnis. Gen Z memiliki banyak informasi, dan dengan demikian memiliki kekuatan untuk memilih dan menuntut. Jika kelompok teknologi ini, orang muda yang cerdas yang memiliki tingkat melek huruf yang tinggi tentang masalah sosial, berbalik melawan perusahaan, itu akan sangat merusak.”

Generasi Z telah dibentuk oleh ketidakpastian, baik dari sisi politik, ekonomi, maupun lingkungan. Model ketenagakerjaan abad kedua puluh telah terkikis oleh perubahan teknologi. Pemerintah tampaknya tidak lagi memiliki jawaban atas stagnasi ekonomi dan ketegangan sosial. Bencana iklim yang akan datang sedang menggoncang masa depan mereka, dan generasi sebelumnya gagal mengambil tindakan.

“Wajar bagi saya dan teman-teman saya untuk berpikir tentang lingkungan karena itu adalah milik kami di masa depan,” tandas Rina Usui, seorang mahasiswa di Universitas Kristen Internasional di Tokyo, kelahiran 1997. “Mencoba untuk melakukan perubahan dan menemukan solusi untuk mengurangi kekhawatiran kita di hari esok adalah akal sehat. Ketika saya berbicara dengan orang tua saya tentang krisis iklim, mereka mengatakan bahwa para ahli akan menanganinya. Itu benar-benar mengejutkan, dan membuat saya menyadari kesenjangan antara generasi saya dan mereka yang lebih tua.”

Kemudian, semakin banyak perusahaan global yang tunduk pada kebutuhan konsumen muda. Menghadapi tekanan dari pelanggan atas upah rendah dalam rantai pasokan mereka, tahun ini rumah mode Swedia, Hennes & Mauritz, membuat langkah untuk meningkatkan transparansi dengan meluncurkan web baru yang mencantumkan rincian pemasok produk dan pabrik mereka. Di AS, McDonald’s mengatakan akan beralih menggunakan telur tanpa kandang 100% pada tahun 2025, dan meningkatkan jumlah item vegan di menu global mereka.

Sebuah survei oleh Euromonitor menemukan bahwa 52% konsumen Gen Z di Asia mencoba untuk memberikan dampak positif terhadap lingkungan melalui tindakan mereka sehari-hari. Itu telah membantu meningkatkan profil perusahaan yang mewujudkan keprihatinan konsumen. “Ini adalah waktu yang sangat penting bagi para pemimpin untuk menyesuaikan praktik, , dan inovasi mereka agar sesuai dengan Gen Z, kelompok yang paling penting dari para penentu tren konsumen,” papar Jason Dorsey, President Center for Generational Kinetics, sebuah perusahaan riset dan konsultasi.

Lush, sebuah perusahaan kosmetik yang berbasis di , telah mendefinisikan dirinya sendiri dengan sikap etisnya tentang sumber bahan baku, baik pada kondisi tenaga kerja, pada pengujian hewan, dan penggunaan kemasannya. Terkenal dengan produknya yang beraneka warna, sangat beraroma, perusahaan telah bekerja untuk mengurangi jumlah kemasan yang digunakan. Sekitar 60% dari total produk perusahaan sekarang ‘telanjang’ atau bebas dari pengemasan dan pengawet.

Gen Z sendiri sudah memiliki daya beli yang besar. Penelitian oleh konsultan OC&C memperkirakan bahwa pada tahun 2018, total pengeluaran langsung oleh konsumen Gen Z adalah 2,4 triliun dolar AS. Generasi ini juga memiliki kemampuan yang cukup besar untuk membentuk pengeluaran rumah tangga. Penelitian IBM menunjukkan bahwa 70% Gen Z memiliki pengaruh terhadap cara keluarga mereka membelanjakan uang.

“Satu-satunya cara bagi perusahaan untuk berbarengan (dengan konsumen Gen-Z) pada permainan ini adalah menjadi seorang aktivis korporat sejati. Keputusan generasi ini tentang apa pun didorong oleh nilai-nilai dan hanya bisa diadopsi oleh merek yang setulus Gen Z tentang masalah ini,” jelas Yeltekin dari Insitor. “Jika mereka mendeteksi ketidaktepatan dalam merek Anda, mereka mengubah kesetiaan dari menjadi promotor perusahaan Anda menjadi pencela perusahaan Anda.”

Loading...