Dihantui Gelombang Kedua COVID-19, Rupiah Berakhir Merah

Rupiah - kabar.newsRupiah - kabar.news

JAKARTA – Rupiah nyaris tidak memiliki tenaga untuk mengangkat posisi ke teritori hijau pada Selasa (14/5) sore ketika kekhawatiran mengenai gelombang kedua -19 menghantam aset berisiko. Menurut laporan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda ditutup melemah 10 poin atau 0,07% ke level Rp14.905 per AS.

Sementara itu, pagi tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) di posisi Rp14.978 per dolar AS, terdepresiasi 42 poin atau 0,28% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.936 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya menghadapi greenback, dengan penurunan terdalam sebesar 0,52% dialami won Korea Selatan.

Dari pasar global, indeks dolar AS sebenarnya fluktuatif pada hari Selasa, ketika kenaikan imbal hasil obligasi AS dan meningkatnya permintaan aset safe-haven di tengah kekhawatiran tentang gelombang kedua infeksi memukul aset berisiko. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,0940 poin atau 0,09% ke level 100,142 pada pukul 14.58 WIB, setelah sempat naik di pagi hari.

Dilansir Reuters, gerak greenback sempat didukung oleh kurva yield AS yang menanjak, karena pejabat Federal Reserve membicarakan prospek negatif, dan karena pasar obligasi bersiap-siap untuk meminjam dana besar-besaran dari Departemen Keuangan AS. Pada saat yang sama, rencana untuk membuka kembali ekonomi telah dibayangi oleh kekhawatiran tentang infeksi COVID-19 ketika pelonggaran pembatasan di Korea Selatan dan Jerman malah menimbulkan lonjakan kasus baru.

“Ini sedikit dukungan imbal hasil (untuk dolar AS) dan kembalinya kegelisahan ketika lonjakan mata uang berisiko di bulan April perlahan memudar,” kata analis Westpac FX, Sean Callow. “Basis kasus kami selama beberapa waktu sekarang karena bouncing risiko telah berlebihan, kami hanya tidak berpikir (pemulihan) akan menjadi garis lurus.”

Kasus baru infeksi dilaporkan kembali meningkat di Jerman hanya beberapa hari setelah pemimpin negara itu melonggarkan kebijakan lockdown. Robert Koch Institute menuturkan bahwa jumlah kasus baru yang dikonfirmasi telah meningkat 666 menjadi total 169.218. Sementara itu, di Korsel, kasus baru juga muncul ketika pemerintah setempat mengizinkan sejumlah klub malam kembali beroperasi.

Loading...