Gejolak Politik Australia Katrol USD, Rupiah Berakhir Drop

Rupiah - www.sindonews.comRupiah - www.sindonews.com

praktis tidak mampu keluar dari teritori merah sepanjang Kamis (23/8) ini, ketika terpantau begitu perkasa, menyusul gejolak politik di Australia dan risalah rapat yang mengindikasikan bahwa bank sentral masih berada di jalur menaikkan suku bunga. Menurut data Index pukul 15.56 WIB, mata uang Garuda melemah 64 poin atau 0,44% ke level Rp14.638 per AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan tengah berada di posisi Rp14.620 per dolar AS, terdepresiasi 52 poin atau 0,39% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.568 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang tidak berdaya versus greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,43% menghampiri yuan China.

Dari , indeks dolar AS terus bergerak lebih tinggi pada hari Kamis, menyusul gejolak politik di Australia dan risalah The Fed yang mengindikasikan bahwa bank sentral masih berada di jalur untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,285 poin atau 0,3% menuju level 95,431 pada pukul 11.02 WIB.

Dilansir Reuters, dolar Australia telah jatuh lebih dari 0,5% setelah kepemimpinan Perdana Menteri Australia, Malcolm Turnbull, diproyeksikan hancur menyusul pengunduran diri tiga menteri senior. Turnbull sendiri mengatakan ia akan mengadakan pemungutan suara untuk kepemimpinan kedua pada Jumat (24/8) esok jika ia menerima surat yang ditandatangani oleh mayoritas Partai Liberal yang berkuasa.

“Permintaan investor akan dolar AS sebagai aset safe haven meningkat seiring penjualan dolar Australia,” tutur ahli strategi mata uang senior di Daiwa Securities di Tokyo, Yukio Ishizuki. “Dolar Australia melemah karena sepertinya Turnbull akan mengundurkan diri, yang berimbas pada pelemahan mata uang lainnya.”

Greenback juga mendapat dukungan lebih lanjut setelah risalah The Fed yang dirilis Kamis pagi WIB menunjukkan bahwa pejabat membahas untuk kenaikan suku bunga ‘segera’ seiring kekuatan ekonomi AS. Meski demikian, risalah Federal Reserve juga mengatakan bahwa para pejabat masih mengamati bagaimana tensi perdagangan global dapat memengaruhi bisnis dan ekonomi dalam negeri.

Loading...