Gejolak Pasar Mereda, Rupiah Malah Berbalik Melemah di Penutupan

www.jokowinomics.com

AS yang kembali melaju ketika pasar mulai mereda, justru membuat harus berbalik melemah di penutupan Rabu (7/2) ini. Menurut Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda menyelesaikan dengan pelemahan sebesar 15 poin atau 0,11% ke level Rp13.555 per AS.

Rupiah sudah berakhir turun 20 poin atau 0,15% di posisi Rp13.540 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (6/2) kemarin. Mata uang NKRI memang sempat menguat 11 poin atau 0,08% ke level Rp13.529 per dolar AS ketika membuka pasar pagi tadi. Namun, sejak akhir sesi pertama, spot kembali menuju zona merah dan bertahan hingga tutup dagang.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan berada di level Rp13.533 per dolar AS, menguat 45 poin atau 0,33% dari perdagangan sebelumnya di posisi Rp13.578 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia perkasa versus , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,63% menghampiri won Korea Selatan.

Dari pasar global, seperti dilansir Reuters, indeks dolar AS bergerak menguat terhadap sekeranjang mata uang pada hari Rabu, karena gejolak di pasar keuangan global perlahan mereda dan sebagian besar mulai beralih lagi dari aset safe haven ke saham. Mata uang Paman Sam tersebut terpantau naik tipis 0,019 poin atau 0,02% menuju level 89,604 pada pukul 11.11 WIB, setelah sebelumnya sudah berakhir menguat 0,031 poin atau 0,03% di posisi 89,585.

Dolar AS perkasa terhadap beberapa mata uang, seperti euro, ketika investor mencari perlindungan di tengah penurunan yang dialami ekuitas global sejak awal pekan, yang dipicu oleh anjloknya saham di bursa Wall Street. Euro sendiri beringsut naik 0,11% menuju level 1,2391 dolar AS, setelah sebelumnya tergelincir ke posisi 1,2314 dolar AS atau level terendah dalam dua minggu.

“Bagaimana greenback akan bergerak usai penurunan saham baru-baru ini, menunjukkan tanda-tanda yang lebih tenang, bergantung pada mata uang yang Anda lihat,” ujar ahli strategi FX senior di IG Securities di Tokyo, Junichi Ishikawa. “Terhadap yen, dolar mendapat keuntungan karena kelegaan terlihat di Wall Street meluas ke Asia. Namun, terhadap euro, gerak mata uang itu kemungkinan akan terbatas, dengan perbedaan yield dan kebijakan moneter untuk menentukan arahnya.”

Loading...