Gejolak di Pasar Asia sangat Berpotensi Menggerus Rupiah

Jakarta berhasil memperbaiki posisinya di pembukaan sesi awal perdagangan pagi ini (7/1). Dikutip dari , mata uang Garuda hinggap ke level Rp 13.917 per Dolar AS, atau menguat 26 poin (0,19%) dari level penutupan di hari sebelumnya (6/1).

Meski begitu, laju Rupiah di zona hijau diperkirakan tak akan bertahan lama. Para pelaku diminta waspada berkaitan dengan potensi berbaliknya Rupiah karena sentimen negatif dari harga minyak mentah dunia dan gejolak di bursa masih sangat terasa.

Menurut Analis PT Samuel Sekuritas Rangga Cipta, Rupiah kembali mendekat ke level 14.000-an akibat terpengaruh pelemahan mayoritas mata uang Asia.

“Rupiah kembali dekati 14 ribu hingga kemarin sore bersamaan dengan pelemahan kurs di Asia terhadap dolar AS,” ujarnya dalam hasil risetnya, pagi ini (7/1).

Rangga menjelaskan, penurunan harga komoditas yang dibarengi dengan peningkatan risiko di Tiongkok dan kawasan Timur Tengah membuat aset berdenominasi Dolar lebih laku di pasar.

Senada dengan Rangga, Kepala Riset PT NH Korindo Securities Reza Priyambada juga melihat potensi pelemahan pada , , dan akibat beberapa data yang dirilis oleh ketiga pemegang mata uang tersebut.

“Pelemahan pada beberapa data di Korsel, Jepang dan Tiongkok kemungkinan dapat berimbas pada pelemahan mata uangnya,” katanya.

Terkhususkan untuk China, rilis data dari PMI semakin memperburuk posisi negara tirai bambu tersebut.

“Pelemahan yuan seiring rilis Caixin general services PMI yang juga menunjukkan pelemahan melengkapi pelemahan indeks sebelumnya,” pungkas Reza.

Loading...