Garang di Pagi Hari, Rupiah Malah Ditutup Negatif

Rupiah - bisnis.comRupiah - bisnis.com

ternyata gagal menjaga posisi di teritori hijau pada perdagangan Rabu (26/8) sore, ketika greenback mencoba bangkit selepas indeks AS dilaporkan mengalami penurunan terburuk dalam lebih dari enam tahun. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda 28,5 poin atau 0,19% ke level Rp14.677,5 per meski awalnya dibuka positif.

“Sentimen positif dari kenaikan indeks saham AS semalam sepertinya mendapatkan perlawanan pada pagi tadi,” ulas Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, dikutip dari Liputan6. “Pasar masih skeptis dengan kelanjutan kesepakatan dagang AS-China fase satu karena hubungan politik yang masih memanas di antara keduanya.”

Dari pasar , indeks AS mencoba bangkit dari penurunan terhadap sebagian besar mata uang pada hari Rabu, ketika para investor menantikan data AS yang diperkirakan akan menunjukkan perlambatan dalam pesanan barang tahan lama dan pidato utama oleh Ketua Federal Reserve, Jerome Powell. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,092 poin atau 0,10% ke level 93,111 pada pukul 14.55 WIB.

Dilansir dari Reuters, greenback sempat terpukul setelah data pada hari Selasa (25/8) waktu setempat menunjukkan kepercayaan konsumen AS jatuh ke level terendah dalam lebih dari enam tahun karena kekhawatiran tentang kehilangan pekerjaan yang disebabkan oleh . Hasil survei The Conference Board mencatat indeks kepercayaan konsumen AS turun menjadi 84,8 pada Agustus 2020, dibandingkan 91,7 pada bulan sebelumnya.

Saat ini, investor menantikan data pesanan barang tahan lama AS bulan Juli 2020 yang diperkirakan melambat, menyusul laporan kepercayaan konsumen AS yang turun ke level terendah sejak Mei 2014. Selain itu, dinantikan pula pidato Powell pada hari Kamis (27/8) di retret tahunan Jackson Hole untuk menentukan langkah apa yang diambil The Fed untuk menjaga pemulihan yang rapuh.

“Saya berharap Powell menggunakan panduan ke depan untuk mengirim pesan dovish bahwa suku bunga akan tetap rendah untuk waktu yang lama, yang akan memberikan dorongan pada pelemahan dolar AS,” kata kepala riset pasar global di MUFG Bank di Tokyo, Minori Uchida. “Bisa dibilang, kita berada dalam koreksi jangka panjang dari kekuatan dolar AS yang berlebihan.”

Loading...