Ganti Haluan, Rakuten Tutup operasional di 3 Negara Eropa

Tokyo – Raksasa E-commmerce , Rakuten, dikabarkan akan menutup situs web ritelnya di tiga negara Eropa pada akhir Agustus 2016, yakni Inggris, Spanyol dan Austria. Selanjutnya, Rakuten akan fokus mengejar pasar besar Jerman dan Perancis.

Langkah ini terpaksa diambil untuk kembali menata ambisi ekspansi Rakuten, meski sedikitnya 100 karyawan harus terkena dampaknya.

Pada Februari lalu, Rakuten mengumumkan akan membongkar subsider e-commerce Thailand, yang artinya, seluruh situs web-ritel di Singapura, dan juga akan ditutup. Target e-commerce global yang semula berisikan lebih dari 10 negara kini dipangkas menjadi hanya 5 negara.

Berdasar data milik British Research Firm Euromonitor International, Rakuten hanya menyumbang sekitar 1% aktifitas ritel di berbagai negara Eropa. Sangat jauh tertinggal dari Amazon.com, yang menguasai nyaris 20% aktivitas e-commerce di berbagai negara.

Berbeda dengan Amazon yang membeli dari pemasok dan menjualnya sendiri pada konsumen, Rakuten justru hanya bertindak sebagai virtual mal yang mempertemukan penjual dan pembeli melalui . Rakuten memulai debutnya di pasar Ichiba, hingga akhirnya meluas ke seluruh Jepang dengan berbagai cakupan aspek penjualan, termasuk bisnis , keuangan, hingga peralatan bisbol .

Di luar Jepang, Rakuten telah membuat serangkaian akuisisi sejak tahun 2010 dengan nominal mencapai kisaran USD 187-937 juta.

Co-Founder & CEO Rakuten Hiroshi Mikitani mengatakan, Rakuten menghadapi kendala di bidang logistik pada pasar-pasar yang ditutup. Selain itu, Rakuten juga harus menghadapi persaingan sengit dengan Lazada yang memiliki pengaruh kuat di Asia Tenggara.

Pada tahun 2014, Mikitani menargetkan kenaikan porsi penjualan sekitar 6-50% pada 2020 dengan target penggandaan laba dari sekitar 300 miliar yen (2014) menjadi 1,7 triliun yen. Sayangnya, laba operasional Rakuten meluncur 11% menjadi 94.6 milyar yen pada tahun 2015 akibat masalah akuisisi.

Loading...