Gandeng Kemarahan Publik, Kunci Bisnis Tetap Tumbuh Usai Donald Trump Menang

NEW YORK – Setelah Donald Trump memenangi Pemilihan Presiden AS, sejumlah pengamat mengaku khawatir bahwa ketidakpuasan publik dapat memengaruhi laju perkembangan sektor , tak cuma di , melainkan juga di seluruh dunia. Karena itu, beberapa cara dilakukan agar pertumbuhan tetap terjaga.

Setelah pemilu, CEO JPMorgan Chase , James Dimon, mengatakan kepada karyawannya di seluruh dunia bahwa dunia bisnis harus mendengarkan suara dari orang-orang yang menghadapi cobaan dan menjadi “pelabuhan” berbagai keluhan. JPMorgan Chase sebelumnya telah membantu kebangkitan daerah, memberikan saran pada pengembangan di Detroit.

Setelah kritik keras terhadap Wall Street ketika krisis pecah pada tahun 2008, Dimon sepenuhnya menyadari kerentanan dalam pendekatan bisnis. Karena itu, menganggap bahwa kesejahteraan dapat mengurangi kemarahan publik, yang juga bisa digunakan sebagai kapitalisme pemula lintas batas di tengah-tengah badai anti-globalisasi.

Seperti diketahui, sejak Donald Trump terpilih sebagai Presiden AS, ia melemparkan wacana untuk memberlakukan tinggi pada impor China dan menyatakan China sebagai manipulator . Pasar saham di negara-negara berkembang sebelumnya telah terpukul sejak Pemilu AS karena investor mempertanyakan prospek pendapatan perusahaan.

Di tengah kemerosotan yang berlarut-larut, ketidakpuasan berlaku di seluruh dunia, yang diam-diam memicu proteksionisme. Dengan laju peningkatan perdagangan dunia yang diperkirakan melebihi ekspansi tahun ini, perdagangan tidak akan lagi menjadi pendorong pertumbuhan.

Sebelumnya, Trump telah menyatakan niatnya untuk menarik AS dari Trans-Pacific Partnership. Jika ia juga mempertimbangkan untuk menarik diri dari NAFTA, yang telah berjalan hampir 23 tahun dan telah menjadi bagian integral dari ekonomi AS, itu jelas akan menggarisbawahi sikap anggota lain, yaitu Meksiko dan Kanada, kepada negara tersebut.

Loading...